Demikian hal itu dikatakan oleh Direktur Investasi Jamsostek Elvyn G Masassya ketika ditemui dalam acara Halal Bi Halal IBI dan Perbanas di Hotel Le Meridien, Jakarta, Jumat malam (09/10/2009).
“Kita lebih memilih untuk mengakuisisi bank yang digunakan sebagai payment bank nantinya. Saat ini ada beberapa yang sedang kita review,” ujar Elvyn.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dan kalau kita punya bank sendiri itu diharapkan bisa lebih efisien dan lebih banyak lagi sinergi. Semua program ini kita rancang dalam tiga tahun kedepan,” jelasnya.
Elvyn menambahkan, nantinya bank tersebut akan mempunyai captive market yang cukup besar karena saat ini peserta jamsostek sebanyak 8,3 juta orang yang tersebar dan dikelola di 120 cabang.
Selain itu Elvyn juga mengatakan, saat ini asuransi plat merah itu sedang fokus untuk membangun lembaga investasi baru yaitu Jamsostek Investment Corporation (JIC).
Rencananya, lanjut Elvyn, tahun 2010 anak usahanya itu akan terwujud. JIC merupakan hasil kerjasama perseroan dengan anak perusahaan Asian Development Bank (ADB) yaitu Islamic Coorporate Development (ICD). Jamsostek bakal mendapat porsi saham sebesar 51 persen di perusahaan tersebut.
“Kita sudah siapkan dana investasi 51 persen dari Rp 1 triliun khusus Jamsostek. Itu diambil dari Rp 75 triliun dana kelolaan Jamsostek. Karena untuk direct investment tidak boleh lebih dari 5 persen,” tuturnya.
Lebih lanjut Elvyn mengatakan, lembaga ini nantinya akan memiliki liabilities asset yang nantinya juga akan menerbitkan obligasi dalam kegiatan meningkatkan dana perseroan.
“Dana itulah nanti bersama equity JIC yang akan ditempatkan sebagai pembiayaan atau penyertaan di perusahaan-perusahaan,” pungkasnya.
(dru/ang)











































