Berdasarkan Survei Perbankan yang dilakukan Bank Indonesia untuk triwulan III-2009, permintaan kredit baru meningkat dengan saldo bersih tertimbang (SBT) sebesar 72,4%. Angka ini berarti meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 65,9%.
Survei perbankan dilaksanakan secara triwulanan terhadap 43 bank umum yang berkantor pusat di Jakarta dengan pangsa kredit yang mewakili sekitar 80% dari nilai total kredit bank umum secara nasional.
Pengolahan datanya menggunakan metode 'Saldo Bersih Tertimbang (SBT)' yakni jawaban responden dilaku bobot kredit (total 100%), selanjutnya dihitung selisih antara persentase responden yang memberikan jawaban meningkat dengan persentase jumlah responden yang memberikan jawaban menurun.
Kenaikan permintaan kredit itu didorong oleh kenaikan kredit dari kelompok bank besar dengan aset di atas Rp 25 triliun. Perbankan memperkirakan peningkatan permintaan ini didorong oleh kecenderungan penurunan suku bunga dan juga membaiknya prospek usaha nasabah.
Berdasarkan penggunaan kredit, kenaikan terbesar terjadi pada kredit konsumsi yakni dari SBT 21,9% menjadi 50,9%.
"Meningkatnya permintaan kredit konsumsi didorong oleh pesatnya permintaan kredit kendaraan bermotor dan kredit multiguna," demikian hasil survei yang dikutip detikFinance dari situs BI, Senin (12/10/2009).
Sementara secara sektoral, permintaan kredit baru masih terfokus pada sektor perdagangan dan sektor pertanian.
Menurut golongan kredit, permintaan terbesar pada triwulan III-2009 terjadi pada kredit skala besar (di atas Ro 5 miliar) dengan kenaikan SBT dari 10,8% menjadi 60%. Hal ini berbeda dengan triwulan sebelumnya, dimana permintaan kredit didominasi oleh kredit kecil dan mikro.
Seiring naiknya permintaan kredit dan membaiknya prospek usaha nasabah, jumlah aplikasi permohonan kredit yang tidak disetujui pada triwulan III-2009 turun dibandingkan triwulan sebelumnya yakni dari 17,2% menjadi 17%. (qom/dnl)











































