Demikian dikatakan oleh Direktur Utama Danamon, Sebastian Paredes dalam konferensi pers kinerja di kuartal III-2009 di Gedung Bank Danamon, Jakarta, Selasa (20/10/2009).
"Kita harapkan, tahun depan bisa mencapai di atas 15 persen karena perekonomian yang membaik dimulai dari kuartal IV-2009," ujarnya.
Dikatakan Sebastian, dikuartal IV-2009 sektor riil akan terus menunjukan pemulihannya sehingga penyaluran kredit akan menjadi lebih tinggi. "Tahun depan fokus bisnis Danamon masih kepada sektor kredit mass market yang mencapai 53 persen dari total kredit saat ini," tuturnya.
Kredit mass market, lanjut Sebastian, didukung oleh pertumbuhan kredit mikro melalui Danamon Simpanan Pinjam (DSP) yang tumbuh mencapai 15 persen dibanding pertumbuhan kredit lain. "Pertumbuhannya dari Rp 10,28 triliun September tahun lalu, menjadi Rp 11,85 triliun di akhir September 2009.
Sebastian melanjutkan, untuk pembiayaan otomotif seperti mobil dan motor tumbuh Rp 1,48 triliun atau 9 persen secara tahunan menjadi Rp 17,95 triliun. "Pembiayaan otomotif ini diakui cukup membanggakan karena mampu tumbuh positif di tengah penjualan di industri otomotif yang menurun," ungkapnya.
Ia melanjutkan, pembiayaan perlengkapan rumah tangga dan elektronik naik 16 persen dari Rp 736 miliar menjadi Rp 857 miliar. Sementara kredit nasabah individu melalui CMM tumbuh 3 persen menjadi Rp 2,116 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sebastian mengatakan, untuk kredit korporasi sampai dengan bulan September 2009 penurunannya hingga mencapai 38 persen dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun 2008.
Total pendanaan Danamon, sambung Sebastian, mencapai Rp 77,96 triliun atau naik dari Rp 76,83 triliun pada akhir kuartal kedua tahun 2009. "Kami mencatatkan pertumbuhan sebesar 11 persen secara tahunan untuk untuk giro yang mencapai Rp 7,08 triliun pada akhir September 2009," tuturnya.
Ia menambahkan, Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat di posisi 86,1 persen dari 90,7 persen setahun yang lalu. "Rasio kredit terhadap pendanaan Danamon dilaporkan sebesar 76,3 persen pada akhir kuartal ketiga 2009, menunjukan posisi likuditas yang sehat," tandasnya.
Namun untuk biaya kredit Danamon (cost of credit) dari bulan Januari 2009 sampai dengan bulan September tahun 2009 tercatat sebesar Rp 1,59 triliun atau naik 85 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008.
Direktur dan CFO Danamon Vera Eve Lim mengatakan, biaya kredit yang tinggi ini dikarenakan penurunan kualitas aktiva produktif ditambah dengan tidak tumbuhnya kredit pada kuartal ketiga tahun 2009.
"Biaya kredit atau pencadangan penyisihan aktiva produktif (PPAP) cukup besar karena penurunan kredit korporasi hingga 38 persen tadi," jelasnya.
(dru/dnl)











































