Hal tersebut dikatakan oleh Kepala LPS, Firdaus Djaelani usai Penandatanganan SKB antara BI dan LPS di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (22/10/2009).
"Selama tahun 2009 kita sudah terima premi sekitar Rp 3,8 triliun, jadi total aset kita sekarang sudah mencapai Rp 18 triliun," ujar Firdaus.
Firdaus mengatakan total klaim yang sudah dibayarkan LPS hingga saat ini sekitar hampir Rp 600 miliar. "Yang paling besar memang untuk membayar klaim BPR Tripanca yakni sekitar Rp 360 miliar, sedangkan untuk Bank IFI kita bayar sekitar Rp 130 miliar untuk sementara ini," jelasnya.
Premi tersebut, lanjut Firdaus, sebagian ditempatkan pada instrumen Serfikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Utang Negara (SUN) sesuai dengan undang-undang LPS. "Hasilnya baguslah, sesuai dengan standar kita bisa dapat keuntungan sekitar 10 persen dari penempatan dana di SUN dan SBI," katanya.
Untuk Bank IFI sendiri Firdaus mengatakan tim likuidasi masih jalan terus saat ini sedang membereskan masalah kredit. "Mereka menagih-nagih kredit yang pernah disalurkan," ucapnya.
Firdaus menambahkan hasil penjualan aset di Bank IFI nantinya akan lebih kecil dari liabilities-nya, jadi jika seluruh asetnya dijual pun tidak akan bisa menutupi untuk
membayar nasabah. "Hampir semua bank yang ditutup seperti itu, kalau tidak bank tidak mungkin ditutup," ujarnya.
Sedangkan untuk Bank Mutiara saat ini yang telah diambil alih LPS, Firdaus mengatakan kinerjanya saat ini sudah mulai membaik. Meskipun kemarin agak berat, karena banyak berita-berita yang kurang baik gencar sekali.Β
"Namun Oktober ini sudah mulai meningkat lagi, sejak kita rebranding Mutiara mulai positif lagi. Ini terbukti dari Rasio Kecukupan Modal (CAR) sudah meningkat menjadi 10% lebih, padahal sebelumnya kan baru 9,5 persen pada akhir september," pungkasnya.
(dru/dnl)











































