Namun untuk kuartal III-2009 saja, BII mencatatkan laba bersih sebesar Rp 131 miliar, naik tinggi dibandingkan kinerja kuartal II-2009 dimana perseroan mengalami rugi bersih Rp 86 miliar.
Pendapatan bunga bersih (NII) naik 10% secara tahunan dari Rp2.056 miliar pada September 2008 menjadi Rp2.267 miliar pada September 2009 serta naik 4% dibandingkan kuartal II-2009. Marjin bunga bersih (NIM) juga membaik menjadi 5,80% pada 30 September 2009 dari 5,09% pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan operasional lainnya (fee based income) per 30 September 2009 naik 33% menjadi Rp1.240 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan peningkatan yang berasal dari fee dari kartu kredit, trade finance, keuntungan transaksi valuta asing, remittance dan fee jasa lainnya.
"Selama empat bulan terakhir, Manajemen BII fokus pada konsolidasi, perbaikan dan persiapan landasan yang kuat untuk pertumbuhan berkelanjutan. Beberapa inisiatif untuk memperbaiki fundamental BII telah diselesaikan untuk mempersiapkan tahap pertumbuhan. Kami senang dengan kemajuan yang telah dicapai sejauh ini. Ke depan, masih banyak yang akan kami lakukan untuk mencapai pertumbuhan yang lebih besar dan menjadi market leader," tutur Presiden Direktur dan CEO BII Ridha Wirakusumah dalam siaran pers yang diterima detikFinance , Kamis (22/10/2009).
Portofolio kredit BII mencapai Rp36,5 triliun atau tumbuh Rp1,1 triliun dari kuartal sebelumnya yang berakhir 30 Juni 2009. Jumlah simpanan nasabah naik 4% dari Rp41,9 triliun pada September 2008 menjadi Rp43,8 triliun pada September 2009 yang menghasilkan LDR sebesar 77,22%.
Rasio kredit bermasalah gross (NPL gross) juga membaik menjadi 3,18% dari 3,60% pada September 2008. Demikian juga, NPL net membaik menjadi 1,72% dari 2,01%. Pengendalian kredit yang lebih ketat, program restrukturisasi kredit yang lebih cepat dan pengawasan seksama terhadap debitur akan terus dilakukan untuk mempertahankan kualitas aset. Selain itu, BII juga menerapkan kebijakan yang lebih konservatif pada kebijakan provisioning untuk seluruh kredit.
Komposisi pendanaan BII membaik dengan Giro-Tabungan (CASA) sebesar 44% dari total simpanan nasabah dibandingkan dengan kontribusi CASA sebesar 41% pada periode yang sama tahun lalu. BII akan terus menciptakan produk-produk yang inovatif serta loyalty program yang berkelanjutan untuk terus memperbaiki komposisi pendanaannya.
Di tingkat anak perusahaan BII, PT Wahana Ottomitra Multiartha (WOM) membukukan laba bersih sebesar Rp32 miliar dengan tingkat NPL yang membaik menjadi 4,0% dari 6,7% pada tahun sebelumnya.
"Kami telah membenahi front end dan back end WOM dengan memperbaiki proses collection, memperketat manajemen risiko, memperbaiki proses persetujuan awal kredit untuk mencapai sasaran nasabah dengan kualitas yang lebih baik melalui turn around time yang lebih cepat. Kami juga telah meng-upgrade infrastruktur teknologi di WOM untuk mendukung proses bisnis," kata Ridha.
BII memiliki modal yang kuat untuk mendukung pertumbuhan kredit dan semua rencana ekspansinya karena rasio kecukupan modal atau CAR (memperhitungkan risiko kredit) sebesar 19,42%.
(dnl/qom)











































