Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Internasional dan Treasury Bank Negara Indonesia (BNI), Bien Subiantoro dalam jumpa pers BNI Inspiring Investment Year di Gedung BNI, Jakarta, Selasa (27/10/2009).
"BNI siap memfasilitasi dan ini diberikan kepada perusahaan BUMN yang siap ekspansi ke kedua negara tersebut," ujar Bien.
Hal ini juga dilakukan untuk mendongkrak pangsa pasar di kedua negara tersebut. Pangsa Pasar (market share) pembiayaan Indonesia di Aljazair masih di bawah 1 persen. Selama tahun 2008, ekspor Indonesia ke negara tersebut hanya mencapai US$ 324 juta.
"Market share Indonesia di Aljazair hanya sebesar 1 persen dan tahun lalu ekspor hanya sebesar US$ 324 juta. Hal ini dikarenakan oleh masih minimnya para eksportir," ujar Kedutaan Besar Indonesia untuk Aljazair Yuli Mumpuni Widarso pada kesempatan yang sama.
Yuli mengatakan rendahnya ekspor ke negara tersebut dikarenakan tingginya tarif pajak pertambahan nilai (PPN). "Komoditi ekspor paling besar contohnya ekspor kopi, kopi saja bea masuknya dikenakan 42 % dengan PPN sebesar 12 %. Itu masih menjadi kendala para eksportir," jelas Yuli.
Namun Yuli optimis melalu beberapa kerjasama seperti dengan BNI yang mengundang 35 nasabahnya akan mampu menaikan ekspor ke Aljazair. "Sampai Desember 2009, ekspor akan meningkat hingga mencapai US$ 500 juta. Ini juga didukung melalui BNI," katanya.
Yuli menambahkan, pasar yang bisa dibiayai di kedua negara tersebut banyak di sektor agriculture seperti Kopi, Kelapa Sawit serta produk-produk pertanian lain. Ditambah lagi seperti minyak pelumas atau oli.
Di tempat yang sama Kedubes RI untuk Tunisia Ibnu Said mengatakan ekspor RI ke Tunisia sampai Juni 2009 mencapai US$ 49,7 juta.
"Padahal tahun lalu mencapai US$ 122 juta, ini karena pengaruh krisis global. Namun kita juga mengharapkan melalui kerjasama ini ekspor ke Tunisia akan bertambah," kata Ibnu.
(dru/dnl)











































