Demikian dikatakan oleh Lisman Sumardjani, Ketua Yayasan Rotan Indonesia, di Jakarta kemarin (30/10/2009).
"Walaupun furnitur dimasukkan sebagai bagian dari 10 produk utama pameran, bahkan diorganisir oleh ASMINDO secara megah di lahan pameran seluas 5.000 m2 , nyatanya justru lebih banyak pajangan mebel rotan imitasi dibanding rotan asli," ujar Lisman.
Lisman khawatir dengan banyaknya furnitur rotan imitasi akan semakin menggerus minat publik terhadap rotan asli. Ujung-ujungnya permintaan terhadap rotan asli (dimana 85% rotan dunia berasal dari Indonesia) akan semakin berkurang.
Perusahaan furniture nanti akan semakin tergantung kepada pabrik rotan imitasi yang plastik dibanding kepada petani pemungut rotan. Maka kelestarian rotan pun akan semakin jauh dari bisa dipertahankan," katanya.
Lisman mendapatkan info Pameran TEI 2009 di Jakarta itu para eksportir produsen mebel imitasi membanting harga habis-habisan untuk merebut order. Ini tindakan gawat yang bisa menyeret harga mebel rotan asli semakin terjun bebas.
"Tampaknya mereka tidak peduli dengan kelangsungan usaha bahan baku asli Indonesia. Tidak peduli dengan kehidupan masyarakat petani pengumpul rotan dan kelestarian rotan," tuturnya.
Lisman sangat menyayangkan sikap para Industriawan mebel rotan yang hanya berpikir sangat pendek namun mengorbankan kepentingan jangka panjang dari kelestarian budidaya dan pengusahaan rotan Indonesia.
"Yang lebih anehnya lagi, mereka tidak mau mempergunakan rotan alam namun tetap saja protes kalau rotan tersebut dijual/diekspor," tutupnya.
(dnl/dnl)











































