Menurut Ketua II Dewan Pengurus Pusat HIPMI Silmy Karim, pihaknya menyambut baik rencana penurunan kembali suku bunga tetapi Silmy kurang setuju dengan cara Bank Indonesia menurunkan bunga bank melalui cara kesepakatan.
"Tapi yang saya tidak setuju adalah caranya. Ini melawan kaidah yang benar, karena ini seperti kartel," ujar Silmy usai menjadi pembicara dalam diskusi bersama FORKEM di Sukabumi, Sabtu (31/10/2009).
Silmy melanjutkan, cara kesepakatan tersebut berpotensi menguntungkan beberapa pihak. Kalau 14 bank ini mau menurunkan memang bagus tetapi ketika ke-14 bank ini beresepakat menaikkan suku bunga maka akan berdampak tidak baik untuk masyarakat. Selain itu, Silmy menyarankan, kalau bisa pemerintah mengatur net profit margin dan penurunan suku bunga tersebut seharusnya dilakukan oleh pemerintah. Namun, hal itu bukan berarti pemerintah melakukan intervensi kepada bank-bank.
"Tapi bagaimana caranya agar pemerintah dan DPR bisa sama-sama mengatur bagaimana caranya lah otoritas moneter agar SBI dan landing ini ada pengaturannya," papar Silmy.
Kendati demikian, ia mengakui bahwa langkah tersebut akan berdampak positif pada iklim investasi sekaligus tingkat konsumsi masyarakat.
"Orang kan selama ini menganalogikan turun bunga itu, hanya berpengaruh pada pengusaha, tidak, pngaruhnya lebih besar ke konsumen. Dengan rendahnya suku bunga, konsumen kan lebih berani belanja," jelas Silmy.
Untuk bunga kredit yang ideal menurut Silmy, berada dikisaran 10-9%. "Sktr 10-9%. Sekarang kalau kita ukur ke bawah, misal 9%, net profit margin bank di Indonesia 4% juga sudah oke. Kurangin kan, 9 kurangi 4 jadi 5, kurang lebih bunga deposito segitu," imbuh Silmy.
(nia/dro)











































