Kapitalisasi Pasar Bank Mandiri Dekati Rp 100 Triliun

Kapitalisasi Pasar Bank Mandiri Dekati Rp 100 Triliun

- detikFinance
Rabu, 04 Nov 2009 15:47 WIB
Kapitalisasi Pasar Bank Mandiri Dekati Rp 100 Triliun
Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat nilai kapitalisasi pasarnya saat ini mendekati Rp 98-100 triliun. Kapitalisasi pasar ini sudah mendekati bank-bank lain di regional Asia Tenggara dan menempati peringkat keenam terbesar di kawasan Asia Tenggara.

"Market cap kita saat ini sudah dekat dengan MayBank, ataupun Bangkok Bank. Nilai kita sudah Rp 98-00 triliun, atau menempati nomor 6 atau 7," terang Chief Financial Officer Bank Mandiri, Pahala Mansyuri usai penandatanganan kerja sama Mandiri Investasi dengan Julius Baer Advisors Indonesia di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (4/11/2009).

Bank Mandiri menargetkan nilai kapitalisasi pasar perseroan dapat seimbang dengan bank-bank regional pada tahun 2014-2015. Ditambahkannya, perseroan tidak memiliki kantor cabang di setiap negara di Asia Tenggara. Namun potensi ini menjadi langkah strategis Bank Mandiri ke depan.

Berdasarkan penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai kapitalisasi pasar Bank Mandiri mencapai Rp 95,55 triliun.

"Ini termasuk ke negara Malaysia, yang akan kita masuki bisnis remitensi. Kita harapkan akan masuk paling tidak 2010," imbuh Pahala.

Pahala, dalam kesempatan yang sama juga menerangkan, ada kemungkinan nilai subdebt Bank Mandiri akan ditingkatkan, dari awal yang Rp 3 triliun. "Mungkin demand -nya sangat baik, sehingga kita bisa saja melakukan upsize ," terang Pahala.

Untuk itu, perseroan terus memonitor bagaimana perkembangan subdebt dalam proses bookbuilding pada 10-14 November mendatang. 

"Mengingat rating atas perseroan dan subdebt tersebut cukup baik, bukan tidak mungkin hal tersebut menjadi kenyataan," katanya.

Peringkat subdebt Bank Mandiri saat ini berada di double A-, dan Pefindo memberi strata triple A untuk perseroan.

Dia pun optimis, dengan adanya penurunan tingkat suku bunga perbankan 8%, dan diprediksi akan menurun kembali ke angka 7%, maka permintaan subdebt akan  membaik.

Menurutnya, subdebt yang akan diterbitkan bertenor selama tujuh tahun. "Jika benchmark -nya mengacu kepada SUN yang bertenor tujuh tahun pula," imbuhnya.

(wep/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads