Demikian disampaikan oleh Presiden Direktur Bank Mega Yungky Setiawan dalam jumpa pers di gedung Bank Mega, Jalan Kapten Tendean, Jakarta, Kamis (12/11/2009).
"Laba kami memang turun. Ini disebabkan peningkatan pajak penyisihan kita, sebagai antisipasi dari risiko kredit, juga overhead pada penambahan jaringan kantor, dari Rp 811 miliar menjadi Rp 949 miliar," imbuhnya.
Posisi CAR Bank Mega sampai September 2009 tercatat sebesar 19,27%, atau meningkat 4,8% dibandingkan periode yang samatahun lalu. Rasio kredit bermasalah (NPL) meningkat tipis dari 0,8% menjadi 1,46%.
Bank Mega menargetkan total kredit sampai akhir tahun 2009 sebesar Rp19 triliun. Harapannya, penyaluran kredit dikontribusikan oleh sektor komersial dan UMKM. Yungky mengatakan, pertumbuhan kredit sampai akhir tahun diharapkan akan menyamai pencapaian perseroan di triwulan III 2008.
"Saat ini, kredit kita memang menurun 10,2% pada September 2009 jika dibandingkan posisi tahun lalu yang Rp1 9,3 triliun. Harapannya angka ini akan sama pada akhir tahun nanti," terangnya.
Saat ini total kredit yang telah dikucurkan perseroan tercatat sebesar Rp 17,33 triliun. Penurunan yang terjadi diakibatkan strategi baru dalam penyaluran kredit yang diterapkan perseroan.
"Kami di awal tahun sangat berhati-hati dalam penyaluran kredit. Kami meminimalkan resiko kredit yang ada, dengan konsolidasi internal," kata Yungky.
Perseroan akan lebih memprioritaskan penyaluran kredit pada sektor ritel, termasuk SMI dan UMKM. "Kami akan merubah segmentasi kredit mulai tahun ini sebenarnya. Maka dari itu, ada dampak dari perubahan strategi ini, yaitu penurunan jumlah kredit. Tapi kami optimis, pertumbuhan positif akan terjadi pada masa yang akan datang," Kata Yungky.
Sampai September, porsi kredit terbesar masih disumbang oleh sektor korporasi 50,2%. Sisanya terbagi pada sektor komersial 14%, dan konsumer 35,8%.
Tahun depan perseroan menargetkan pertumbuhan kredit mencapai 25%. "Untuk tahun depan, pertumbuhan bisa 20-25%, namun ingat, ini juga diikuti oleh overhead yang pasti meningkat," terangnya.
Dengan posisi kredit sampai akhir tahun Rp19 triliun, maka pertumbuhan di 2010 berada di level Rp 4,75 triliun. Hingga angka kredit tahun depan mencapai hampir Rp 25 triliun.
(wep/dnl)











































