Demikian dikatakan oleh Pjs Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution usai Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR-RI di Gedung DPR, Jakarta, Senin (16/11/2009).
"SBI itu memang membuat uang kita keluar banyak, jadi jangan berpikir kita senang melakukan hal itu, karena kita harus membayar bunga dari SBI tersebut," ujar Darmin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darmin menjelaskan, pembayaran bunga SBI yang besar itu dilakukan sebagai upaya untuk menjaga likuiditas perekonomian sehingga tidak terlalu banyak uang yang beredar.
"SBI memang gunananya untuk itu, dan sekarang kenapa perekonomian tidak menyerap uang banyak? ya tanya perekonomiannya," tambahnya.
Lebih lanjut Darmin meminta agar masalah tingginya pembayaran bunga SBI ini dilihat secara utuh. Bunga SBI selama ini selalu berkaitan dengan BI Rate.
"Memang kalau diturunkan sekaligus (Suku Bunga SBI), biaya moneter BI jadi murah, itu bener logikanya. Namun masalahnya, bunga SBI itu mengikuti BI Rate," tuturnya.
Sementara BI Rate sendiri ditetapkan tidak boleh terlalu dekat dengan inflasi. Seperti diketahui, BI Rate saat ini sekitar 6,5%, inflasi secara year on year tercatat sebesar 2,57%.
"Karena kalau disetel terlalu dekat dengan inflasi uang bisa lari. Ini yang menyebabkan kita tidak bisa bikin kebijakan yang berdiri sendiri, kita harus bikin kebijakan yang menyeluruh," ungkapnya.
Karena itu, lanjut Darmin, jika memang bunga SBI ingin diturunkan maka inflasi dulu yang harus ditekan.
Mengenai defisit Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) yang cukup besar, Darmin menyatakan hal itu juga disebabkan karena anggaran kebijakan moneter lain yang cukup besar. Namun Darmin mengatakan, anggaran kebijakan moneter, tidak bisa dibicarakan terbuka.
"Karena kalo membuka kebijakan moneter tentu akan merugikan negara. Bukan mau menghindar tapi nanti khusus dibicarakan dalam forum dengan DPR dan kebijakan moneter sperti apa di tahun depan serta perkiraan defisitnya," paparnya.
(dru/qom)











































