Neraca Pembayaran RI Surplus US$ 3,546 Miliar

Neraca Pembayaran RI Surplus US$ 3,546 Miliar

- detikFinance
Selasa, 17 Nov 2009 17:41 WIB
Neraca Pembayaran RI Surplus US$ 3,546 Miliar
Jakarta - Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan III-2009 secara keseluruhan mencatat surplus US$ 3,546 miliar. Angka ini meningkat tajam dibandingkan pada triwulan III-2008 yang mencetak defisit US$ 89 miliar.

Surplus tersebut juga lebih baik ketimbang surplus pada triwulan II-2009 yang hanya sebesar US$ 1,052 miliar. Dari transaksi berjalan maupun transaksi modal dan finansial memberikan kontribusi positif terhadap surplus neraca pembayaran selama triwulan III-2009.

Sejalan dengan itu, jumlah cadangan devisa pada akhir triwulan III-2009 meningkat menjadi US$ 62,3 miliar atau setara dengan 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Menurut siaran pers dari BI, Selasa (17/11/2009), transaksi berjalan pada triwulan III-2009 mencatat surplus US$1,7 miliar, menurun dibandingkan surplus US$2,9 miliar pada triwulan II-2009. Namun meningkat jika dibandingkan surplus transaksi berjalan pada triwulan III-2008 yang mencatat defisit US$ 966 juta.

"Penurunan surplus ini terutama disebabkan oleh menurunnya kinerja neraca perdagangan nonmigas dan neraca perdagangan minyak," jelas Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI, Dyah NK Makhijani.

Ekspor nonmigas melanjutkan tren kenaikan yang terjadi sejak triwulan sebelumnya, ditopang oleh masih kuatnya permintaan di beberapa negara kawasan Asia dan berlanjutnya kenaikan harga beberapa produk ekspor utama di pasar internasional, khususnya komoditas primer.

Namun, akselerasi kegiatan ekonomi domestik mendorong impor nonmigas tumbuh lebih cepat (16,3%, qtq) daripada ekspor nonmigas (9,5%, qtq). Sehingga surplus neraca perdagangan nonmigas berkurang dibandingkan triwulan sebelumnya.

Akselerasi kegiatan ekonomi domestik, disertai faktor musiman Lebaran, juga menyebabkan kenaikan konsumsi BBM dan impor minyak sehingga menimbulkan defisit pada neraca perdagangan minyak.

"Namun kinerja transaksi berjalan terbantu oleh kenaikan surplus neraca perdagangan gas seiring telah berproduksinya lapangan gas Tangguh dan meningkatnya harga minyak dunia," jelas Dyah.

Penurunan surplus transaksi berjalan tersebut dapat diimbangi oleh perbaikan kinerja transaksi modal dan finansial. Pada triwulan III-2009 transaksi modal dan finansial mencatat surplus US$ 3 miliar, setelah pada periode sebelumnya mengalami defisit US$ 2,2 miliar.

"Surplus ini bersumber dari perbaikan kinerja investasi portofolio dan investasi lainnya. Kondisi makroekonomi di dalam negeri yang semakin membaik, didukung oleh suku bunga instrumen rupiah yang relatif menarik, memicu kenaikan arus masuk investasi portofolio," jelas Dyah.

Pada kelompok investasi lainnya, prospek ekonomi yang membaik, kondisi likuiditas global yang melonggar, serta suku bunga luar negeri yang relatif rendah, mendorong kenaikan penarikan utang luar negeri swasta. Kinerja investasi lainnya juga terbantu oleh adanya tambahan alokasi Special Drawing Rights (SDR).

Tambahan alokasi SDR tersebut ditujukan untuk memperkuat cadangan devisa negara-negara anggota International Monetary Fund (IMF), termasuk Indonesia, sebagai bagian dari upaya penanganan krisis ekonomi global. (qom/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads