Bahkan di tahun depan, defisit anggaran BI diproyeksikan melonjak menjadi Rp 22,4 triliun, dibandingkan defisit BI tahun ini yang diproyeksikan sebesar Rp 1,904 triliun.
Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono mengatakan BI akan mempelajari dampak dari pembatasan aliran dana asing pada SBI khususnya dari segi biaya sehingga defisit anggaran bisa dikurangi.
"Karena sampai saat ini yg dikhawatirkan adalah jika asing masuk ke Indonesia, hot money kemudian keluar," tuturnya di Gedung DPR-RI, Jakarta, Selasa (17/11/2009).
Tapi menurut Hartadi saat ini dana yang keluar ataupun masuk melalui SBI memang menyebabkan cost yang begitu besar.
"Dan memang kasian BI harus menerima beban bunga SBI yang besar. Tapi itu memang tugas kita, kalau ada uang masuk dari luar maka harus diserap ketimbang dia jadi uang yang hot money," paparnya.
Di tempat yang sama Wakil Ketua Komisi XI DPR-RI Akhsanul Qosasi mengatakan anggaran kebijakan moneter tersebut memang paling besar karena banyak hal yang tidak bisa terduga.
"Anggaran kebijakan BI dipakai misalnya untuk intervensi rupiah. Intervensi rupiah itu mahal sampai menghabiskan sekian triliun sendiri," ujarnya.
Namun, lanjut Akhsa, kenaikan anggaran lain masih dalam taraf normal. "Kenaikan anggaran lain hanya mencapai 5% sampai 10%, itu normal saja," jelasnya.
Mengenai tingginya bunga yang harus dibayar BI untuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Akhsa mengatakan memang tidak ada instrumen lain selain SBI untuk menjaga likuditas.
"Bahkan untuk SBI dari Asing, itu adalah kosekuensi moneter. Karena kita tidak bisa lepas dari asing dan transaksi asing menyebabkan uang masuk dan itu bagus," katanya.
(dru/dnl)










































