Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Hartadi Sarwono mengatakan dari sisi penerimaan anggaran, penempatan cadangan devisa di instrumen global memberikan kontribusi yang besar.
"Kalau penerimaan, itu paling besar kita dapatkan dari penerimaan cadangan devisa. Saya tidak bisa mengungkapkan detailnya, karena kadang-kadang saya sendiri tidak mengetahui, jadi bisa dibayangkan bagaimana menempatkan cadangan devisa kita yang hampir mencapai US$ 65 miliar itu kepada berbagai instrumen-instrumen keuangan di dunia," papar Hartadi di Gedung DPR-RI, Jakarta, Rabu (18/11/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditempat yang sama Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya menjelaskan pengelolaan cadangan devisa Indonesia mengikuti harus best practices. BI sudah memiliki aturan untuk penempatannya.
"Prinsip-prinsipnya yang pertama adalah mencari tempat yang diperkirakan dapat liquid setiap saat dan bisa kita cairkan bila suatu saat kita perlu," ujarnya.
Yang kedua, lanjut Budi Mulya, Cadangan Devisa yang ditempatkan di instrumen global harus mempunyai sekuriti atau keamanan yang baik.
"Aman dan terjamin, tidak sembarangan kita tempatkan seperti di aset-aset bermasalah. Dan yang paling penting yakni yang ketiga, dia juga harus memberikan return dengan pertimbangan risiko yang sudah kita hitung," paparnya.
Jadi 3 prinsip tersebut, lanjut Budi Mulya merupakan pedoman cara BI untuk mengelola cadangan devisa.
"Pengelolaan devisa harus secara optimal dan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian sehingga tidak mengganggu balance sheet BI. Ini untuk memperkecil defisit anggaran," pungkasnya.
(dru/qom)











































