"Kami hanya targetkan penambahan Rp 1 triliun sampai akhir tahun," jelas Wakil Presiden Direktur CIMB Niaga Daniel James Rompas dalam public expose di Graha Niaga, Jalan Sudirman, Jakarta, Kamis (19/11/2009).
Secara outstanding, kredit hunian perseroan mengalami penurunan 7%, dibanding tahun sebelumnya, dari Rp 13,3 triliun menjadi Rp 12,4 triliun.
James menjelaskan, turunnya penyaluran KPR triwulan III tahun ini, diakibatkan besarnya portofolio perseroan dalam periode Januari-September 2009. Pada tiap bulannya tercatat penurunan kredit hunian Rp 250-300 miliar.
"Penurunan mencapai 20% di tiap bulannya. Ini disebabkan portofolio kita sudah terlalu besar, sedangkan tidak terjadi penambahan kredit baru bagi nasabah, akibat krisis," terang Direktur Ritel Banking CIMB Niaga Suhaimin Djohan.
Ditambahkannya, dalam 6 bulan tahun ini, penyaluran kredit hunian turun drastis, sedangkan pembayaran kredit nasabah terus berjalan. Secara otomatis, angka kredit secara akumulasi mengalami penurunan.
Namun mulai Oktober, perseroan mencatat pertumbuhan positif pada kredit hunian, seiring membaiknya ekonomi dunia dan adanya produk KPR baru mereka.
Sampai Oktober, tercatat Rp 2,1 triliun penyaluran kredit hunian dibukukan perseroan. "Kalau sampai Oktober ini, sudah Rp 2,1 triliun," papar Suhaimin.
Menurut James, Oktober merupakan bulan dengan tingkat pertumbuhan KPR tertinggi yang dapat dicapai CIMB Niaga. Penyaluran KPR sampai 9 bulan 2009, menyumbang 55% dari total kredit ritel yang tercatat Rp 22,7 triliun, dan 17% dari keseluruhan bankwide credit.
Kredit kepemilikan kendaraan tercatat Rp 7,5 triliun, atau naik 25% dari periode yang sama tahun lalu Rp6 triliun.
Penyaluran kartu kredit juga meningkat 8%, dari Rp 1,3 triliun menjadi Rp 1,4 triliun. Untuk personal loan, tercatat turun 7%, menjadi Rp1,4 triliun dari sebelumnya Rp 1,5 triliun.
(wep/dnl)











































