BI Tak Mau Bertaruh Tutup Century Saat Krisis Global

BI Tak Mau Bertaruh Tutup Century Saat Krisis Global

- detikFinance
Selasa, 24 Nov 2009 17:02 WIB
BI Tak Mau Bertaruh Tutup Century Saat Krisis Global
Jakarta - Bank Indonesia (BI) tidak berani bertaruh untuk menutup PT Bank Century Tbk (sekarang bank Mutiara) bertepatan dengan puncak krisis global pada akhir tahun 2008.

Hal tersebut dikatakan oleh Pjs Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution dalam konferensi pers di Gedung Departemen Keuangan, Jakarta, Selasa (24/11/2009).

Darmin menjelaskan, kriteria mengenai dampak sistemik memang tidak diatur didalam peraturan perundang-undangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak diatur secara jelas kriteria bank yang ditengarai berdampak sistemik, juga didalam peraturan perundang-undangan," jelasnya.

"Jadi, siapa yang mau gambling pada situasi seperti itu," tambahnya.

Darmin mengatakan, sewaktu terjadinya krisis pada tahun 2008 lalu, kondisi perbankan mengalami kekeringan likuditas.

"DPK perbankan menurun dan likuditas ketat, dalam interbank (pasar uang) juga terjadi hal yang sama," tuturnya.

Ditambah, sambung Darmin, terdapat 23 Bank sekelas Century yang mengalami kondisi yang sama.

"CAR (Rasio Kecukupan Modal) ke 23 bank tersebut sangat minim, sampai ada yang berada dibawah 8 %. Jika Century ditutup maka akan dikhawatirkan ke 23 bank sekelas Century terjadi rush (penarikan)," papar Darmin.

Ditempat yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani juga mengatakan hal serupa. Penutupan Bank Century pada saat krisis tersebut, dikatakan Sri Mulyani akan menimbulkan dampak menjalar kepada bank-bank lain dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan.

"Apalagi Indonesia pernah mengalami krisis yang sama," ujarnya.

Ada beberapa indikator yang dijadikan acuan oleh KSSK (Komite Stabilitas Sektor Keuangan) yang diketuai Sri Mulyani saat itu untuk menyelamatkan Bank Century.

Pertama adalah tekanan yang kuat dari pasar keuangan akibat jatuhnya lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Lehman Brothers, AIG, dan lainnya.

"Pasar modal dunia mengalami tekanan yang terlihat dari indeks saham. Kita tahu IHSG pada Januari 2008 mencapai 2830, tapi pada November turun menjadi 1155, penurunannya lebih dari 50%. Dan kalau anda ingat beberapa kali kita melakukan suspensi pasar modal," paparnya.

Lalu kedua, harga obligasi negara turun dan yield-nya naik sampai mencapai 17,1%

Ketiga, pada saat ini persepsi risiko gagal bayar obligasi di Indonesia meningkat yang terlihat dari credit default swap (CDS) yang naik dari 250 bps menjadi lebih dari 1.000 bps.

Kemudian keempat nilai cadangan devisa kita turun dalam waktu 3 bulan turun dari US$ 59,45 miliar menjadi US$ 51,64 miliar.

Kelima, nilai tukar rupiah terdepresiasi dalam dari Rp 9.800 per dolar AS di Januari menjadi Rp 12.100 per dolar AS.

"Rupiah terdepresiasi 30%, seperti yang anda ingat wartawan selalu menanyakan saya kondisi nilai tukar saat itu," katanya.


(dru/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads