Pembatasan Asing di SBI Sulit dan Dilematis untuk BI

Pembatasan Asing di SBI Sulit dan Dilematis untuk BI

- detikFinance
Kamis, 26 Nov 2009 06:12 WIB
Pembatasan Asing di SBI Sulit dan Dilematis untuk BI
Jakarta - Wacana pembatasan kepemilikan asing dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI) terus bergulir. Pilihan yang diambil BI cukup sulit dan dilematis untuk saat ini.

Ekonom Kepala PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Tony Prasetiantono mengatakan pilihan-pilihan yang tersedia memang cenderung sulit karena mengandung sisi positif dan negatif. Jika dana SBIΒ  tidak dibatasi, konsekuensinya BI akan terbebani dengan biaya moneter yang cukup besar.
Β 
Dengan semakin bertambahnya jumlah dana SBI, maka BI harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar bunganya.

"Namun jika dana asing di SBI dibatasi, akan menurunkan minat asing untuk mengalirkan dananya ke Indonesia," ujarnya kepada detikFinance di Jakarta, Rabu malam (25/11/2009).
Β 
Jika hal ini terjadi, lanjut Tony, akan mengakibatkan cadangan devisa Indonesia turun dan bisa melemahkan kurs rupiah.
Β 
Sebelumnya Pjs Gubernur BI, Darmin Nasution menjelaskan saat ini BI sedang menggodok mengenai hubungan dari masuknya investor asing ke SBI dengan volatilitas atau pergerakan yang terjadi pada nilai tukar rupiah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tonny mengungkapkan, sebenarnya untuk saat ini, Indonesia memiliki sejumlah advantages (keuntungan) dibandingkan negara lain, khususnya di negara berkembang yaitu berupa stabilitas politik dan daya tahan ekonomi terhadap krisis global, mestinya BI cukup percaya diri untuk membatasi.

"Namun setelah dihitung-hitung dari segala aspeknya, saya merekomendasikan sekarang ini batasi saja dana asing di SBI," ujar Tony.

Tony menjelaskam, dana SBI bebeda dengan SUN (Surat Utang Negara). Kelemahan dana SBI, lanjut Tony adalah dananya tesimpan di laci BI dan tidak bisa digunakan. Ini sangat berbeda dengan SUN yang dananya bisa digunakan secara produktif untuk membiayai APBN.

"Jadi, beda dampaknya ke perekonomian. SBI sifatnya steril karena tidak bisa dibelanjakan, sedangkan dana SUN bisa dibelanjakan sehingga mendorong pertumbuhan," paparnya.

Meski begitu, Tonny mengingatkan jika dana asing di SUN terlalu banyak juga akan mengancam suistanability fiskal.

"Pemerintah jadi kebanyakan utang, dan ini bahaya di masa mendatang," pungkasnya.

(dru/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads