Namun menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Hartadi A. Sarwono, pernyataan yang dikeluarkan oleh bank sentral Uni Emirat Arab (UEA) menenangkan para investor.
"Secara keseluruhan ada sedikit adjustment untuk emerging markets , jadi ada sentimen negatif ke emerging markets. Saya perkirakan dampaknya tidak terlalu panjang dan tidak terlalu dalam karena ada statement dari bank sentral di sana yang bisa menangani masalah utang yang mencapai US$ 50 miliar itu," tuturnya saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (30/11/2009).
Hartadi mengatakan masalah gagal bayar surat utang Dubai World ini akan cepat diselesaikan. Karena jumlah cadangan devisa negara tersebut sangat besar dari hasil penjualan minyak, selain itu aset-aset surat berharga mereka sangat likuid.
"Dan sesuai dengan perkiraan analis, dampaknya tidak terlalu besar bagi dunia, apalagi Indonesia. Karena eksposur kita terhadap Dubai tidak besar. Bahkan tidak ada, hanya beberapa dalam sukuk," katanya.
Selain itu, Hartadi mengakui, kasus gagal bayar ini akan mempengaruhi kenaikan yield (imbal hasil) sukuk di pasar.
"Itu hanya sebentar saja yield -nya terpengaruh. Kalau bank sentral mereka bisa mem-back up , semua bisa berlangsung cepat dan tidak berubah. Jika dilihat hari ini saja tidak ada dampak yang besar," jelasnya.
(dnl/qom)











































