Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani ketika ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (30/11/2009).
"Kalau kita lihat, bank barangkali membuat target kredit berdasarkan situasi ekonomi tahun depan. Kalau 15% itu memang versi yang rendah menurut saya. Dibandingkan dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi tahun depan," tuturnya.
Kemudian alasan kedua menurut Sri Mulyani, BI melihat pertumbuhan kredit sebesar 15%-17% di 2010 sudah cukup tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit di semester II-2009 ini. Selain itu, kondisi perusahaan tidak akan langsung pulih pasca krisis ekonomi global, sehingga permintaan kreid belum akan tumbuh pesat.
"Jadi kondisi keuangan dari perusahaan memang dalam proses normalisasi atau konsolidasi, sehingga mereka tidak langsung peak up dengan capital expenditure atau belanja modal, yang kemudian menimbulkan demand for credit kepada perbankan," jelasnya.
Terakhir, menurut Sri Mulyani, perusahaan lebih memilih pasar modal untuk mencari dana untuk kebutuhan ekspansinya ketimbang melalui kredit perbankan.
"Saya rasa capital market stabilitasnya cukup baik. Proyeksi credit growth bisa di-offset dengan perusahaan tinggal melakukan bond issuence (penerbitan obligasi) saja. Menerbitkan bond kepada masyarakat melalui capital market. Barangkali itu biayanya bisa lebih murah daripada pinjam ke bank," tutupnya.
(nia/dnl)











































