"Perkiraan kita inflasi tahun 2010 yaitu dikisaran 5% plus minus 1%. Inflasi paling berani akan ada di sekitar 5%-5,5%. Melalui perhitungan inflasi tersebut maka BI Rate yang pas adalah di posisi 6,5%," ujar Pjs Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di sela acara Investor Summit and Capital Market Expo 2009 di Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Rabu (02/12/2009).
Darmin menjelaskan dalam menurunkan BI-Rate Bank Sentral tidak akan gegabah. "Karena kita sadar tidak ingin nantinya bulan Januari 2010 kita harus menaikkan lagi, ini kebijakan antisipasi di tahun 2010," tuturnya.
Di akhir tahun ini saja, lanjut Darmin, laju deflasi di negara maju mulai tertahan, sementara tekanan inflasi di kawasan Asia mulai menunjukan peningkatan meski masih berada pada level yang rendah.
"Ekspektasi perbaikan ekonomi merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan potensi tekanan inflasi ke depan. Hal ini juga menyebabkan respons pelonggaran kebijakan moneter mulai tertahan," jelasnya.
Darmin menambahkan, Bank Sentral masih melihat ke depannya harga minyak mentah terus akan meningkat ditambah harga-harga barang di luar negeri termasuk migas tahun depan akan meningkat lebih tinggi.
"Untuk itu BI melihat tingkat suku bunga acuan atau BI Rate di posisi 6,5% sesuai dengan perkiraan inflasi yang akan terjadi di 2010. Dan itu sudah sangat tepat," ungkapnya.
(dru/dnl)











































