Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat pertumbuhan pendapatan industri asuransi jiwa hingga triwulan III-2009 sebesar 69,28% atau sebesar Rp 61,95 triliun dari posisi triwulan III-2008 sebesar Rp 36,6 triliun.
Β
Demikian dikatakan oleh Ketua Umum Asosiasi Asuransi jiwa Indonesia (AAJI) Evelina F. Pietruschka dalam siaran pers yang diterima detikFinance di Jakarta, Kamis (10/12/2009).
"Kondisi recovery ekonomi yang terus membaik dan gejolak politik yang terus diredam, diharapkan dapat mendorong kontinuitas pertumbuhan industri asuransi jiwa di tahun 2010 hingga tahun-tahun berikutnya. Dan diharapkan potensi pertumbuhan hingga akhir 2009 di atas level 30%," papar Evelina.
Ia mengatakan, prospek industri asuransi jiwa ke depan yang mematok catatan aset Rp 500 triliun di tahun 2015, bisa dicapai dengan catatan pertumbuhan per tahun di level 30%. Hingga triwulan III-2009 total aset industri asuransi jiwa mencapai Rp 123,34 triliun.
"Kalau sekarang terlihat bahwa pertumbuhan industri asuransi itu di atas 30% per tahun maka target aset di tahun 2015 itu sangat realistis untuk dicapai. Tentu saja kita harapkan beberapa faktor pendukung seperti adanya insentif pajak pemegang polis yang terus kita upayakan, faktor politik yang panas bisa diredam cepat, dan kondisi economic growth yang baik," jelasnya.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi paralel dengan pertumbuhan sektor pendukung seperti asuransi. Semakin baik pertumbuhan ekonomi maka kesadaran berasuransi dan berinvestasi dari masyarakt juga membaik.
"Jika pertumbuhan ekonomi membaik, catatan indeks harga saham gabungan (IHSG) terus naik, maka tentu saja masyarakat akan lebih pintar untuk sudah pindah maka investasi disaham semakin baik," tambahnya.
Adapun sumbangan pendapatan premi pada triwulan III-2009 mencapai Rp 43,36 triliun atau tumbuh sebesar 14.44% dibandingkan periode yang sama 2008 senilai Rp 37,89 triliun. Sedangkan total pendapatan non premi asuransi jiwa pada periode ini mencapai Rp 18,59 triliun atau meningkat 1538,47% dibandingkan periode yang sama 2008 yang mengalami penurunan minus Rp 1,3 triliun.
Evelina menegaskan, dari total pendapatan premi itu, sebesar Rp 28,61 triliun di antaranya adalah pendapatan premi produksi baru (new business). Dibandingkan dengan periode sebelumnya triwulan III-2009 minus 11,52% dan trriwulan II-2009 juga minus 6,67%, kini premi produksi baru pada triwulan ketiga 2009 mengalami pertumbuhan 11,49%.
Sementara itu, pendapatan premi produksi baru pada periode yang sama 2008 mencapai Rp 25,66 triliun.
"Kita mensyukuri bahwa catatan new bisnis sangat baik hingga triwulan III tahun ini. Artinya setelah krisis keuangan, juga bencana alam, kesadaran investasi dan membeli produk asuransi oleh masyarakat semakin membaik," tandasnya.
Evelina menyebutkan, hal itu terlihat dari pertumbuhan pendapatan dari hasil investasi melonjak sebesar Rp 17,58 triliun hingga triwulan III-2009. Angka ini tumbuh pesat sebesar 956.74% dibandingkan periode yang sama tahun 2008 yang minus Rp 2,05 triliun.
Total Investasi dan Klaim
Direktur Eksekutif AAJI Stephen B.Juwono menambahkan, nilai investasi industri asuransi jiwa pada triwulan III-2009 mengalami peningkatan yang cukup besar 35,64% atau mencapai Rp 123,33 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 90,92 triliun.
Adapun dari catatan instrumen investasi di triwulan III-2009 didominasi oleh Surat berharga senilai Rp 51,6 triliun (41,84%), diikuti reksa dana Rp 36,8 triliun (29,88%), Deposito berjangka Rp 15,3 triliun (12,45%). Demikian juga dengan instrumen SBI senilai Rp 3,4 triliun (2,75%).
"Dibanding Surat Berharga yang meningkat signifikan dari posisi triwula III-2008 senilai Rp 33,7 triliun (37,06%), menjadi Rp 51,6 triliun (41,84%), minat investasi di SBI malah berkurang kalau kita bandingkan dengan periode yang sama tahun 2008 yang sebesar Rp 5,3 triliun (5,86%)," kata Stephen.
Dia menjelaskan, keseriusan Bank Indonesia (BI) yang terus memangkas suku bunga acuan (BI Rate) hingga 6,5% pada September 2009, dan bertahan di level yang sama hingga akhir tahun ini, maka tentu saja bunga SBI pun terus turun, lebih kecil dibanding bunga deposito.
"Sehingga pilihan investasi di SBI semakin turun, dan berpindah ke deposito atau reksa dana," tandas Stephen.
Evelina menambahkan, saat ini dan ke depan memang kecenderungan yang besar pada pola investasi adalah instrumen surat berharga.
"Tren ke depan memang surat berharga. Karena produk asuransi itu jangka panjang maka berinvestasi di instrumen seperti SUN sangat tepat. Selain bunganya tinggi, risikonya hampir 0%, dan ini mendukung RBC industri asuransi," katanya.
Selain SUN sebagai instrumen favorit saat ini, unit link juga menjadi pilihan. "Pasalnya selain investasi, unit link juga mempunyai faktor proteksi.
Hingga triwulan III saja, unit link mencatat pertumbuhan 37, 72 % menjadi 14,6 triliun, naik dari triwulan III-2008 yang hanya Rp 10 triliun lebih. Ini menunjukkan bahwa tren masyarakat sudah menyukai produk unit link," tutur Stephen.
Sedangkan dari klaimnya sendiri, Stephen menyebutkan, total klaim pada triwulan III-2009 mengalami kenaikan 18,98% atau sebesar Rp 26,46 triliun dibandingkan periode sebelumnya Rp 22,24 triliun.
Begitupula cadangan teknis mengalami peningkatan sebesar 32,58% atau Rp 110,10 triliun dibandingkan periode sebelumnya yaitu Rp 83,04 triliun.
Sedangkan untuk total tertanggung (insured ) pada triwulan III-2009 mengalami kenaikan sebesar 44,79% atau sejumlah 38.588.594 orang dibandingkan periode yang sama di 2008 berjumlah 26.651.529 orang.
(dru/dnl)











































