Pertumbuhan kredit yang cukup besar tersebut dilakukan sebagai upaya manajemen untuk memperoleh laba bersih di tahun depan diatas Rp 250 miliar selain dari penerimaan fee based income.
Demikian dikatakan oleh Direktur Treasury Bank Mutiara Ahmad Fajar disela acara Costumer Gathering Bank Mutiara di Harum Manis Resto, Jakarta, Jumat malam (10/12/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fokus penyaluran kreditnya, lanjut Ahmad Fajar tetap di sektor retail dan kredit konsumer. Selain itu dikatakan Ahmad Fajar dari penerimaan Dana Pihak Ketiga, Bank Mutiara menargetkan pertumbuhannya mencapai Rp 1,5 triliun.
"Saat ini nasabah Mutiara kurang lebih mencapai 46.000 dan tahun depan ditargetkan akan bertambah nasabah baru sebanyak 10.000 nasabah," tuturnya.
Ditempat yang sama, Direktur Retail Bank Mutiara Benny Purnomo mengatakan ekspansi tahun 2010 cukup besar.
"Kita telah bekerja sama dengan 12 multifinance melalui channeling, kedepan kita masih akan menggaet multifinance yang masuk kedalam 40 besar multifinance terbesar di Indonesia," tuturnya.
Dalam waktu dekat ini, lanjut Benny, Mutiara akan berikan kredit kepada Armada Finance yakni salah satu perusahaan multifinance karoseri terbesar di Yogyakarta dan dengan PT
Indomobil.
Direktur Utama Bank Mutiara, Maryono menjelaskan target laba diatas Rp 250 miliar tersebut akan konsisten dipertahankan selama lima tahun kedepan. Hal ini dilakukan karena menurut Maryono jika laba bisa dipertahankan, Bank Mutiara mempunyai nilai jual diatas Rp 7 triliun.
"Saya diberi waktu oleh LPS 3 tahun, bisa diperpanjang 2 kali 1 tahun. Nantinya jika laba bersih mencapai Rp 250 miliar per tahunnya maka ditahun kelima laba Mutiara akan mencapai Rp 1,25 triliun," ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan Maryono, saat ini modal Mutiara tercatat sebesar Rp 600 miliar. Sehingga jika ditambahkan laba setelah lima tahun ekuitas menjadi Rp 1,75 triliun.
"Price to Book Value biasanya ekuitas dikali 4, jika ekuitasi kita nanti Rp 1,75 triliun maka harga jual Bank Mutiara akan mencapai Rp 7 triliun," tandasnya.
Sehingga, sambung Maryono, bisa mengganti dana Penyertaan Modal Sementara (PMS) yang mencapai Rp 6,7 triliun.
"Ini belum termasuk recovery aset kita diluar negeri, jadi kami optimistis nilai bailout Rp 6,7 triliun akan kembali kepada LPS," pungkasnya.
(dru/qom)











































