Mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Miranda S. Goeltom mengatakan, kesulitan likuiditas yang terjadi di akhir 2008 tersebut cukup dalam terjadi. Namun dia membantah, jika ketatnya likuiditas akibat tingginya suku bunga acuan BI Rate.
"Kebijakan kenaikan suku bunga bukan hanya sekali tetapi sering dan berkali-kali, berubah-ubah, dan bukan karena itu saja. Contoh SUN dan SBI yang dipegang asing merosot tajam, hampir semua dibawa keluar untuk kebutuhan mereka," tuturnya dalam rapat dengan Pansus Century di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (22/12/2009).
Miranda mengatakan, saat itu jumlah cadangan devisa RI dalam 1 bulan bisa menurun US$ 7-8 miliar.
"Kesulitan likuiditas karena ketidakpercayaan. Di perbankan ada bank pemberi dan penerima dalam transaksi antar bank. Antar bank BUMN, periode kesulitan penurunan pinjaman turun hingga 93%. Antara bank BUMN dengan 15 bank bukan BUMN turun 68%. Antara bank BUMN dengan bank-bank kecil juga turun tapi saya lupa angkanya," paparnya.
Kondisi ini, menyebabkan bank kecil seperti Century tidak mempunyai likuiditas untuk masuk ke pasar uang antar bank (PUAB). Jadi dengan begitu, Century merupakan bank yang menjadi korban krisis ekonomi global, di samping masalah manajemen yang buruk.
Miranda juga mengatakan, meski bank kecil, namun jika dalam keadaan krisis dan tidak diselamatkan, maka Century bisa menimbulkan dampak sistemik.
(dnl/qom)











































