3 Alasan BI Menganggap Century Sistemik

3 Alasan BI Menganggap Century Sistemik

- detikFinance
Rabu, 23 Des 2009 13:48 WIB
3 Alasan BI Menganggap Century Sistemik
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai penutupan Bank Century bisa menimbulkan dampak sistemik terhadap sektor perbankan Indonesia di tengah kondisi krisis ekonomi global yang terjadi saat itu.

Pada tanggal 20 November 2008, sehari sebelum Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) memutuskan penyelamatan Century oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Gubernur BI saat itu Boediono mengirimkan surat kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani selaku Ketua KSSK.

Dalam surat bernomor 10/232/GBI/Rahasia, Boediono menguraikan analisis dampak sistemik terhadap kegagalan Bank Century.

Pertama, jika Century ditutup maka akan terjadi penurunan kepercayaan masyarakat. Boediono mengatakan, Bank Century memiliki jumlah nasabah yang besar (65.000 nasabah) dan jaringan yang cukup luas di seluruh Indonesia (30 kantor cabang).

"Munculnya permasalahan pelayanan Bank Century terhadap nasabah-nasbahnya dikhawatirkan dapat memicu kepanikan masyarakat. Terlebih lagi dalam kondisi pasar saat ini yang cenderung rentan terhadap berita-berita negatif maka penutupan bank ini berpotensi menimbulkan contagion effect berupa upaya rush terhadap bank-bank lainnya, terutama peer banks atau bank yang lebih kecil," ujar Boediono dalam dokumen surat yang didapat detikFinance , Rabu (23/12/2009).

Karena itu, lanjut Boediono, penutupan Century dikhawatirkan dapat mengganggu kelancaran sistem pembayaran, serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan dan sistem keuangan secara keseluruhan.

Boediono dalam suratnya mengatakan, jumlah deposan inti Centiury dengan saldo di atas Rp 2 miliar mencapai Rp 5,5 triliun atau 51,2% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) Century. Terdapat simpanan beberapa BUMN yang jumlahnya mencapai Rp 476 miliar. Sedangkan jumlah kewajiban Century yang menjadi beban LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) terhadap dana-dana nasabah di bawah Rp 2 miliar, mencapai RP 5,3 triliun.

Kedua, Boediono dalam suratnya mengatakan penutupan Bank Century dengan cepat memperburuk kinerja pasar keuangan. Karena saat itu situasi pasar keuangan masih labil dalam menyerap berita-berita negatif.

"Pasar modal mengalami penurunan harga saham terus-menerus, penurunan kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia, serta penurunan harga saham dan SUN di pasar modal," ujar Boediono dalam suratnya.

Ketiga, permasalahan pada Bank Century berpotensi menimbulkan dampak sistemik terutama melalui pemburukan psikologi masyarakat pasar yang selanjutnya menimbulkan gangguan pada sistem pembayaran dan pasar keuangan.

Boediono dalam suratnya menggambarkan betapa ketatnya likuiditas perbankan saat itu, dimana bank-bank cenderung menahan likuiditas baik rupiah atau valas untuk keperluan likuiditasnya masing-masing.

"Kondisi seperti ini akan membahayakan bank-bank yang tidak memiliki kekuatan likuiditas yang cukup," tutur Boediono.

BI melihat ada 18 bank yang berpotensi mengalami kesulitan likuiditas dan 5 bank yang memiliki karakteristik sama dengan Century.

"Jika kemudian muncul rumor atau berita negatif mengenai kegagalan 23 bank di atas dalam settlement kliring/RTGS, hal ini akan dengan cepat memicu terjadinya kepanikan di kalangan masyarakat dan berpotensi menimbulkan bank run .
(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads