Miranda yang terbalut baju batik warna coklat, blazer warna coklat muda dan selendang, tiba di rumah duka, Jalan Metro Kencana V, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Kamis (31/12/2009) sekitar pukul 15.35 WIB.
"Pak Frans itu guru saya. Sampai saat beliau sakit, kami terus menjaga hubungan baik. Bahkan saat beliau sakit, beliau selalu mengikuti perkembangan Indonesia dari waktu ke waktu," kata Miranda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat saya di BI pun beliau selalu menasihati saya. Beliau selalu menjaga konsistensi dalam setiap pandangan dan kebijakannya. Beliau selalu mengingatkan tidak ada kebebasan yang tidak dibatasi. BI harus independen dengan aturan yang jelas," papar dia.
Selain Miranda, Menbudpar Jero Wacik juga datang mengucapkan belasungkawa. Jero Wacik tiba dengan menumpang mobil dinas baru Crown Royal Saloon RI 34.
Frans Seda meninggal dalam usia 83 tahun. Sebelumnya dia mengeluh ada masalah di kerongongan. Frans juga sering melakukan fisioterapi. Selama Fisioterapi, Frans Weda menjalani aktivitasnya dengan kursi roda dengan ditemani seorang suster. Frans akan akan dimakamkan di pemakaman umum San Diego, Karawang pada 2 Januari 2010.
Lahir di Flores, Nusa Tenggara Timur, 4 Oktober 1926, Frans dikenang sebagai seorang politikus, menteri, tokoh gereja, pengamat politik, dan pengusaha Indonesia.
Posisi yang pernah dijabatnya dalam pemerintahan antara lain adalah Menteri Perkebunan dalam Kabinet Kerja IV (1963-1964) dan Menteri Keuangan Kabinet Ampera (1966-1967) dan Kabinet Ampera yang disempurnakan (1967-1968) sewaktu awal Orde Baru, serta Menteri Perhubungan dan Pariwisata (1968-1973) dalam Kabinet Pembangunan I.
(aan/qom)











































