Demikian disampaikan oleh Chief Economics Danareksa Research Institute Purbaya Yudisadewa saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (5/1/2010).
"BI Rate ditahan di 6,5%, karena kalau diturunkan sekarang, dan inflasinya naik, tentu BI akan membalikkan bunga. Kalau kebijakannya naik turun, itu bisa mengganggu kredibilitas bank sentral dan dianggap tidak becus menilai prospek inflasi. Nanti bunganya bisa zig zag," tuturnya.
Yudi menambahkan BI Rate pada angka 6,5% itu sudah merupakan angka terendah sepanjang sejarah. Namun, lanjutnya, memang bunga kredit saat ini masih tinggi.
Β
"Biasanya kalau BI Rate di 5% itu, lending ratenya sekitar 11,5%. Itu sudah merupakan suku bunga terendah sepanjang sejarah BI Rate sejak 1983, tetapi harusnya kita bisa lari lebih cepat," harap Purbaya.
Sementara itu, mengenai masih sulitnya penurunan suku bunga kredit, Purbaya mengatakan masih ada yang perlu diperbaiki dari sisi kebijakan yang dikeluarkan oleh BI.
"Jadi kalaU kebijakan moneter tidak diperbaiki ke depan rasanya kita sulit mengharapkan bunga pinajaman dan kredit tumbuh dengan lebih cepat. Mudah-mudahan keadaannya tidak seburuk itu. Saya pikir BI juga sudah berusaha dengan segala cara. Mudah-mudahn pada satu titik mereka menemukan jalan yang benar," tandasnya.
(nia/dnl)











































