"Kalau NPL, sih sedikit naik, nggak apa-apa lah untuk rakyat kecil. Pasti ada kenaikan (NPL), tapi jangan khawatir karena dijamin oleh Askrindo," katanya usai acara penandatanganan addendum program KUR, di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (12/1/2010).
Syarif mengatakan dengan adanya kelonggaran ini juga akan meningkatkan penyaluran KUR, terlebih lagi telah dilakukan penurunan suku bunga untuk KUR. Sehingga akses usaha kecil dan menengah (UKM) bisa lebih mudah untuk mendapatkan kredit, yang akan diimbangi oleh peningkatan produktivitas.
"Akses mulai ditingkatkan, akan ada advokasi agar mempermudah ke perbankan," katanya.
Beberapa langkah relaksasi penyaluran KUR yang mulai dilakukan pada tahun 2010, antara lain:
- Penurunan suku bunga KUR mikro dari 24% menjadi 22%.
- Penurunan suku bunga kredit KUR dengan plafon Rp 5-500 juta dari 16% menjadi 14%.
- Periode pengembalian ditambah dari 3 tahun menjadi 6 tahun
- Kewajiban sistem informasi debitur ditiadakan untuk KUR mikro
Penyaluran KUR pada awal Januari 2008 mencapai Rp 1,4 triliun, meningkat menjadi Rp 12,9 triliun pada Januari 2009 dan posisi terakhir pada November 2009 mencapai Rp 16,5 triliun. Di antaranya sektor perdagangan 64%, pertanian 20%, industri pengolahan 5%, jasa dunia usaha 5%, dan jasa lainnya 7%.
Sampai akhir November 2009 sebanyak 2,3 juta orang mendapatkan program KUR dengan rata-rata pinjaman Rp 7,5 juta dengan kredit macet atau NPL 5,75%. Selain itu sudah ada 100.000 debitur KUR yang sudah bermigrasi ke kredit komersial perbankan.
Sementara itu wilayah-wilayah penerima KUR terbanyak yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jateng penerima KUR terbesar karena banyak pelaku usahanya. Sedangkan untuk dil uar Jawa ada Sumut, Sulsel, dan Sumsel.
(hen/dnl)











































