Depkeu: Ongkos Utang RI Termurah Sejak 2004

Depkeu: Ongkos Utang RI Termurah Sejak 2004

- detikFinance
Rabu, 13 Jan 2010 18:28 WIB
Depkeu: Ongkos Utang RI Termurah Sejak 2004
Jakarta - Pemerintah menyatakan ongkos atau biaya utang melalui penerbitan obligasi menurun, bahkan saat ini ongkosnya terendah sejak 2004.

Menurut Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto murahnya ongkos penerbitan surat utang ini tercermin dari yield (imbal hasil) obligasi global yang diterbitkan pemerintah kemarin.

Pemerintah menerbitkan obligasi global dengan yield sebesar 6%. "Sejak 2004, baru sekarang bisa menerbitkan 10 tahun dengan yield 6%. Yang paling bagus, yield tahun 2004 itu 6,85%," tegasnya saat ditemui di Gedung DPR, siang ini (13/1/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rahmat menyatakan yield obligasi global tersebut rendah karena pemerintah hanya menerbitkan dalam 1 seri sehingga pembeli bisa konsentrasi pada seri tersebut. Selain itu, momen peneribtannya tepat, di saat pasar keuangan dunia sedang bangkit.

"Kita menerapkan strata yang tepat, pertama, kita menerbitkan hanya 1 seri jadi permintaan konsentrasi pada 1 seri saja. Kedua, kita melakukan strata untuk melakukan penekanan pada yield. Ketiga, momennya tepat, kita menerbitkan pada saat pasar mulai bullish," ujar Rahmat.

Menurut Rahmat, selama ini banyak yang mengira ongkos utang Filipina lebih baik dibandingkan Indonesia. Rahmat tidak setuju dengan anggapan tersebut, karena yield Filipina saat ini memang lebih rendah daripada Indonesia, tetapi negara itu juga menerbitkan obligasi global dengan jumlah lebih kecil dari Indonesia, hanya US$ 650 juta sedangkan Indonesia US$ 2 miliar.

"Selama ini Filipina selalu lebih bagus, tapi saya katakan tidak. Size yang diterbitkan Filipina US$ 650 juta dengan yield 5%. Indonesia lebih dari US$ 1 miliar dengan yield 6%. Itu sudah the best," tegasnya.

Rahmat juga menyatakan yield Filipina lebih bagus karena Filipina dapat banyak valuta asing dari tenaga kerjanya. Kedua, pembeli obligasi global Filipina sebanyak 40-50% dari bank lokal kita. Sedangkan, obligasi global Indonesia hanya 5% pembeli yang berasal dari bank lokal.

"Ke depan, kita juga masih ada Samurai dan sukuk," ujar Rahmat.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads