Demikian disampaikan ekonom Econit Rizal Ramli dalam Econit Economic Outlook di Hotel Sultan Jakarta, Kamis (14/1/2010).
"Yield obligasi negara kita 4,32%, Korea 4,15%, dan Philipina hanya 3,89%. Inilah kenapa mereka cinta Sri Mulyani (Menkeu)," ungkapnya.
Menurut Rizal, keberadaan surat berharga negara seharusnya hanya sebagai instrumen moneter. "Tapi sekarang jadi alat investasi asing," jelasnya.
Rizal menyatakan strategi pinjaman yang sangat agresif serta berlebihan dengan memberikan bunga tinggi berpotensi merugikan negara, karena aliran dana spekulatif (hot money) yang masuk selain berdampak positif bagi nilai tukar rupiah dan indeks, namun juga akan meningkatkan risiko finansial melalui potensi arus balik modal.
"Itu akan menjadi lubang bagi negara," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Ekonom Econit lainnya Hendri Saparini menyatakan, langkah pemerintah dalam mengakumulasi pinjaman dipicu oleh tipikal Menkeu yang seperti ibu rumah tangga.
"Mungkin karena tipikal ibu rumah tangga (Menkeu), jadi kumpulin duit dulu dari utang baru mikirin pengeluarannya," ujar Hendri.
(nia/dnl)











































