Menurut Direktur Utama PT Bank Windu Kentjana Internasional Tbk Herman Sujono, penyaluran kredit perseroan diharapkan akan meningkat. Ini sejalan dengan program strategis Bank Windu yang telah disusun dan telah mendapat persetujuan dari seluruh pemegang saham. Peningkatan kredit ditargetkan lebih dari 20%.
"Akan naik dari tahun lalu. Double digit yang jelas, bisa di atas 20%. Pastinya sedang difinalisasi," ujarnya seusai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Kamis (14/1/2010).
Penyaluran kredit tetap difokuskan sektor Small and Medium Enterprise (SME). Porsinya mencapai 40-50%, atau setara dengan Rp 800 miliar, jika mengacu pada laporan keuangan perseroan per 31 Desember 2009. Sisanya, penyaluran kredit masuk ke sektor konsumer dan korporate.
"Ada sedikit korporat dan konsumer, tapi fokus tetap di SME. Tahun depan juga akan sama," katanya.
Untuk mewujudkan target kredit tersebut, perseroan siap menambah cabang menjadi 100 kantor, dari posisi tahun 2009 yang hanya 52 kantor. "Cara ekspansi kredit ya dengan menambah kantor cabang. Kami akan tambah menjadi 100 kantor cabang dalam dua tahun ke depan," papar Herman.
Persebaran kantor cabang baru, akan difokuskan di luar pulau Jawa, seperti Bali, Palembang, Pontianak, Pekan Baru, dan Batam. Meskpiun demikian, juga ada kantor cabang baru diΒ sekitar Jakarta, dan beberapa wilayah di pulau Jawa.
Dana yang dianggarkan atas penambahan kantor cabang ini mencapai Rp 20-25 miliar. Sumber dana didapat dari kas internal perseroan yang telah dipersiapkan.
Perseroan juga sedang menyiapkan pilot project untuk kredit usaha kecil. Nantinya masyarakat dapat mengajukan kredit maksimal Rp 300 juta, dengan bunga yang menarik.
"Kita akan coba itu, karena potensinya ada. Tentu dengan bunga kredit yang baik, meskipun tidak sama dengan kredit yang lain. Bisa di atas 20%. Tapi akan lebih baik dari pada leasing. Dari pada mereka pinjam modal harian dengan bunga 5% per hari," jelasnya.
Sebagai area percontohan, perseroan telah memasarkan kredit dengan plafon rendah ini di wilayah Pondok Bambu dan Kalimalang. Selanjutnya, kredit akan dipasarkan di wilayah Depok, dan Bandung Jawa Barat.
Sampai akhir tahun 2009, perseroan membukukan peningkatan kredit 9%, menjadi Rp 1,57 triliun. Nilai aset juga baik 39%, menjadi Rp 2,81 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp 2,42 triliun atau naik 44% dibandingkan di posisi tahun 2008.
"Income before tax kami Rp 22,4 miliar, dengan CAR 15,6%, dan NPL growth 0,7% dan net 0,5%. LDR juga 65%, CAR 15,6%," imbuhnya.
(wep/dnl)











































