"Yang paling mungkin, BNI Syariah dan Bank Syariah Bukopin. Namun, BSB yang paling besar. Kita akan jadi mayoritas, diatas 50%," kata Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga yang ditemui di kantor Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Komplek Departemen Keuangan, Lapangan Banteng, Jakarta Jumat (15/1/2010).
Sebelumnya Jamsostek tengah menyeleksi 6 bank. Selain BNI Syariah dan BSB, ada PT Bank Bukopin, Unit Usaha Syariah PT Bank Tabungan Negara, Bank Muamalat, dan Bank Agroniaga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita masuk ya lewat right issue. Kita lihat, mereka akan mengeluarkan berapa," jelasnya.
Nantinya, lanjut Hotbonar, penguasaan kepemilikan di BSB akan dijalankan Jamsostek melalui anak usaha mereka, yaitu Jamsostek Investment Company (JIC). JIC merupakan anak usaha baru hasil join venture dengan Asian Development Bank (ADB).
JIC telah menyiapkan dana Rp 1 triliun atas rencana akuisisi tersebut. Tidak hanya BSB, perseroan juga akan masuk ke BNI Syariah, namun tidak sebagai pemilik mayoritas.
"BNI kami inginkan 20-30%. Tidak sebagai mayoritas. Dana yang disiapkan, semuanya Rp 1 triliun," paparnya.
Ada dua opsi dalam pembelian saham 30% saham BNI Syariah. Bisa melalui anak usaha JIC, atau ADB dan Jamsostek masuk masing-masing.
"Ya tergantung. Bisa ADB akan masuk ke BNI (Syariah), plus Jamsostek. Atau lewat JIC, kita join dulu. Memang, yang paling menguntungkan yang kedua (melalui anak usaha)," imbuhnya.
(dro/dro)











































