Krisis Global Membuat 'Miskin' 300.000 Investor Lokal

Buku Putih BI (1)

Krisis Global Membuat 'Miskin' 300.000 Investor Lokal

- detikFinance
Selasa, 19 Jan 2010 10:37 WIB
Krisis Global Membuat Miskin 300.000 Investor Lokal
Jakarta - Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh krisis global. Krisis yang bermula dari krisis AS itu bahkan sempat membuat 'miskin' 300 ribu investor lokal Indonesia.

Demikian terungkap dalam 'Buku Putih' yang dikeluarkan BI dengan judul "Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia", dan dikutip detikFinance , Selasa (19/1/2010).

Pada bagian pertama buku setebal 70 halaman tersebut dituliskan mengenai kegagalan industri properti (subprime mortgage ) di AS.

Kegagalan itu kemudian menjadi pemicu kejatuhan institusi keuangan AS sehingga menyeret dunia masuk dalam krisis skala global. Dalam situasi dunia yang serba global dan menyatu, Indonesia pun tak lepas dari imbas krisis keuangan di AS.

BI menuliskan, berbagai indikator yang diperiksa memperlihatkan gejala Indonesia mengalami 'peradangan' akibat krisis. Salah satu indikasinya adalah nilai tukar rupiah yang sempat menembus level psikologis 10.000 per dolar AS. Cadangan devisa juga sempat menguap hampir Rp 9 triliun dalam sekejap.

Indikator lainnya yang diteliti BI juga memperlihatkan gejala sama. Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan sempat menghentikan sementara atau suspensi perdagangan saham selama 2 hari.

"Hal ini untuk menghindari kejatuhan indeks bursa lebih parah dan merontokkan modal sekitar 300 ribu investor lokal yang seketika menjadi 'miskin' karena harga saham yang mereka pegang merosot hingga di atas 50%," tulis BI dalam buku putih tersebut.

Dalam catatan detikFinance , Bursa Efek Indonesia (BEI) memang sempat menghentikan perdagangan saham pada 8-10 Oktober 2008 setelah IHSG anjlok tajam. Tanggal 9 Oktober, perdagangan saham sempat dibuka namun kembali ditutup pukul 11.08 waktu JATS setelah IHSG anjlok hingga 10,38%.

Dalam buku tersebut juga dituliskan, kondisi perbankan dalam negeri ketika itu memang sempat kocar-kacir dibuat. Hal tersebut terlihat dari keringnya likuiditas di pasar yang membuat bank-bank mengalami kesulitan mencari pasokan dana segar.

"Bisa dibayangkan bila 3 bank besar BUMN sempat minta 'tolong' pemerintah selaku bohir (pemilik) ketiga bank pelat merah itu, tambahan likuiditas. Ketiga bank itu masing-masing bank mendapat guyuran Rp 5 triliun," demikian terungkap dalam buku putih BI itu. (qom/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads