Habis IPO, BTN Targetkan Laba Bersih Meroket 50%

Habis IPO, BTN Targetkan Laba Bersih Meroket 50%

- detikFinance
Jumat, 05 Feb 2010 10:15 WIB
Habis IPO, BTN Targetkan Laba Bersih Meroket 50%
Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) incar pertumbuhan laba bersih hingga 50% di tahun 2010. Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh ekspansi kredit yang besar setelah IPO BTN yang menghasilkan  tambahan modal hingga Rp 1,9 triliun.

Demikian dikatakan oleh Direktur Utama BTN, Iqbal Latanro dalam RDP dengan Komisi XI DPR-RI di Gedung DPR, Jakarta, Kamis malam (4/2/2010).

"Kita optimistis laba tahun 2010 bisa meningkat hingga 50%. Karena adanya IPO kita bisa melakukan ekspansi kredit secara besar hingga diatas target rata-rata industri perbankan nasional yakni mencapai 26,5%," ujar Iqbal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Iqbal, perseroan berencana untuk menambah jaringan kantor berupa pendirian kios-kios BTN dan pengembangan bersama kantor pos.

"Kita berencana menambah 100 kios di daerah-daerah. Hal tersebut dilakukan juga sebagai upaya meningkatkan komposisi dana murah BTN," tutur Iqbal.

Dana Pihak Ketiga (DPK) BTN saat ini masih di dominasi dana deposito hingga 60%. "Maka kita ingin menjadikan BTN benar-benar sebagai bank tabungan," katanya.

Sumber dana ekspansi kredit BTN, juga akan dilakukan melalui penerbitan obligasi. BTN pada tahun 2010 berniat menerbitkan obligasi sekitar Rp 1,5-Rp 2 triliun di semester I.

"Obligasi rutin dilakukan, BTN telah menerbitkan obligasi sebanyak 13 kali," ungkap Iqbal.

Bank dengan pangsa pasar KPR terbesar ini akan mendukung program pemerintah tahun 2010 ini yakni ikut mensukseskan gerakan nasional sejuta rumah kelompok menengah bawah. Saat ini BTN mematok suku bunganya antara 11,5%-13% untuk KPR non subsidi. BTN saat ini menguasai pangsa pasar untuk KPR hingga 25,7%.

"Untuk yang subsidi sesuai dengan ketetapan pemerintah. Terkait suku bunga, kita akan selalui mengevaluasi, untuk yang non subsidi nanti akan disesuaikan lagi. Masih akan turun lagi, karena suku bunga tinggi tidak baik," kata Iqbal.

(dru/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads