Sementara itu, total premi tahunan Allianz Life selama 2009 juga meningkat 27,4% dari tahun 2008 sebesar Rp 504 milliar menjadi Rp 642 miliar di tahun 2009.
Demikian dikatakan oleh CEO Allianz Life Indonesia Jens Reisch dalam konferensi persnya di Graha Niaga, Sudirman, Jakarta, Jumat (05/02/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Produk unit link yang menjadi andalan Allianz serta yang diminati masyarakat menurut Jens adalah produk jenis SmartLink Balanced Fund dan SmartLink Equity Fund.
"Untuk SmartLink Balanced Fund dana kelolaannya telah mencapai Rp 1,38 triliun. Dan untuk SmartLink Equity Fund tercatat Rp 820 miliar," ungkapnya.
Produk unit link syariah sendiri, lanjut Jens, juga menunjukkan pertumbuhan yang baik. Tercatat selama tahun 2009 produk unit link syariah Rp 289 miliar meningkat 122,3% dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar Rp 130 miliar.
"Tahun 2010, unit link sendiri ditargetkan akan tumbuh minimum 20%," tandasnya.
Pandangan Ekonomi Makro dan Investasi 2010
Chief Investment Officer Allianz Asia Pasific Nikhil Srinivasan memaparkan prediksi selama tahun 2010 terhadap kondisi makro dan iklim investasi Indonesia.
Nikhil mengatakan kinerja spektakuler pasar seperti di tahun 2009 tidak akan terulang kembali di tahun 2010. "Hal ini dikarenakan pasar sudah bergerak naik dan menyebabkan valuasi pasar tidak semenarik tahun sebelumnya," ujar Nikhil.
Beberapa kepastian menurut Nikhil tetap akan ada pada untuk beberapa bulan kedepan. "Perekonomian negara barat belum keluar dari krisis sepenuhnya dimana tingkat utang konsumen tetap tinggi dan bank-bank besar di AS dan Eropa belum mau memberikan pinjaman," papar Nikhil.
Pasar saham di Indonesia, sambung Nikhil, Allianz melihat peluang yang baik pada sektor infarstruktur, properti, konsumen, bank dan perusahaan-perusahaan pertambangan.
"Sektor infrastruktur kami lebih menyukai perusahaan semen yang memiliki kekuatan negosiasi harga yang baik daripada sektor konstruksi atau perusahaan jalan tol," jelasnya.
Sedangkan dari pasar obligasi, Allianz akan sangat berhati-hati terhadap risiko durasi akibat ekspektasi pengetatan moneter yang dapat terjadi tahun ini.
"Meskipun BI tetap menjaga tingkat suku bunga diposisi 6,5%, namun kita tetap harus mencermati risiko inflasi yang terkait dengan harga pangan dan pergerakan dalam harga-harga barang tertentu dalam komponen inflasi serta pertumbuhan kredit dalam paruh kedua tahun ini," kata Nikhil.
Nikhil mengatakan terkait dengan obligasi korporasi Allianz tetap akan melihat pada perusahaan yang memiliki kualitas neraca dan pendapatan yang tinggi.
(dru/dro)











































