Hal ini disampaikan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis malam (5/2/2010).
Rahmat mengatakan, pada bulan April 2010 Kemenkeu sudah akan menetapkan nama underwritter yang dipilih. "April kali ya," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan nilai obligasi berdenominasi Yen tersebut berkisar US$ 750 juta-US$ 1 miliar.
Pada semester kedua tahun lalu, pemerintah telah menerbitkan Samurai Bond senilai US$ 360 juta dari jatah pinjaman siaga yang dialokasikan pemerintah Jepang. Pinjaman siaga ini diberikan Jepang kepada Indonesia untuk menghadapi krisis global yang terjadi dua tahun lalu.
Dalam kesempatan tersebut, Rahmat mengatakan usai penerbitan Samburai Bond ini, pemerinah akan mengkaji penerbitan sukuk global. Namun nilainya masih dalam pertimbangan, dengan melihat potensi penyerapan di pasar.
"Mungkin setelah Samurai Bond. Lihat potensi market-nya ya," ungkapnya.
(nia/dnl)











































