"Kita mesti menyikapinya dengan proporsional. (Kasus pembobolan ATM ini) bukan outsource-nya yang salah tapi karena sistem kontrol yang kurang berjalan," tutur Ekonom PT Bank BRI Djoko Retnadi kepada detikFinance, Minggu (7/2/2010) malam.
Oleh karena itu, lanjut Djoko, sistem rekrutmen harus dibuat agar bisa menciptakan built in control berjalan dengan benar. Jika sistem kontrol tidak berjalan, maka kasus pembobolan ATM bisa terulang kapan pun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sehingga kunci utama agar kasus pembobolan bank ini tidak terulang, menurut Djoko adalah sistem kontro bank harus baik dan dilaksanakan dengan konsekuen.Β
"Jadi dengan sistem kontrol yang baik, kalau ada pembobolan, bisa cepat terdeteksi dan terkendali loss (kerugian) nya,"pungkasnya.
Seperti diketahui, Mabes Polri melansir, dua pejabat bank telah menjadi tersangka kasus pembobolan rekening nasabah. Mereka adalah AS, seorang supervisor di BCA Bandung dan Andri Setiawan yang disebut sebagai karyawan Bank Danamon. Andri diketahui pernah juga bekerja di BCA. Dalam jaringan pembobolan, Andri bertugas sebagai memberi data nasabah.
Namun Bank Danamon dalam siaran persnya menegaskan, Andri Setiawan, tersangka pembobolan rekening nasabah, bukanlah karyawannya. Setelah ditelusuri, Andri merupakan karyawan outsource dari PT Bangun Daya Insani.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Difi A Johansyah sebelumnya juga mengimbau agar industri perbankan membatasi penggunaan karyawan kontrak atau outsource untuk menghindari kasus tersebut.
(dru/qom)











































