BI: Rupiah Melemah akibat Keperkasaan Dolar AS

BI: Rupiah Melemah akibat Keperkasaan Dolar AS

- detikFinance
Jumat, 30 Apr 2004 14:15 WIB
Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aslim Tadjuddin menyatakan melemahnya nilai tukar rupiah belakangan ini hingga sempat menembus level Rp 8.700 per dolar AS disebabkan menguatnya dolar atas seluruh mata uang dunia. Hal itu dipicu meningkatnya pertumbuhan ekonomi AS dan menurunnya defisit anggaran negara tersebut.Menguatnya dolar AS tersebut, menurut dia, memberi dampak signfikan terhadap nilai tukar rupiah, meski data makro ekonomi Indonesia cukup baik. Selain rupiah, yen Jepang juga melemah hingga level 111 per dolar AS dan euro 1,7 per dolar AS."Akibat itu semua, rupiah terkena dampak meski sebetulnya data makro kita cukup baik, seperti suku bunga yang masih bisa turun dan neraca pembayaran yang juga masih baik-baik saja," ujar Aslim saat ditemui usai salat Jumat di gedung BI, Jakarta, Jumat (30/4/2004).Selain menguatnya dolar AS, menurut dia, penyebab lain anjloknya rupiah adalah persepsi akan adanya kenaikan suku bunga bank sentral AS yakni Federal Reserve (The Fed). sehingga terjadi pergeseran dari instrumen lain ke dolar AS.BI sendiri, lanjut Aslim, akan tetap menjaga volatilitas rupiah agar tidak terlalu tinggi. Jika dibutuhkan, BI pun siap melakukan intervensi pasar.Meski terus melemah, BI tidak akan mengubah comfort level nilai tukar rupiah yang sebelumnya telah ditetapkan yakni di kisaran Rp 8.300-8.700 per dolar AS. Namun diakui, saat ini rupiah tengah berada di batas atas level tersebut.Lebih lanjut, Aslim menyebutkan, melemahnya rupiah juga dipicu oleh tidak adanya sentimen positif di dalam negeri. Namun ia optimis ke depan akan muncul sentimen positif di pasar, meski saat ini terjadi berbagai kerusuhan seperti di Ambon."Jangka panjang, stabilitas rupiah ditentukan oleh faktor fundamental ekonomi, tapi jangka pendek oleh faktor non-ekonomi. Tapi saat ini rupiah masih cukup kompetitif untuk ekspor. Jadi kita optimis bisa menguat lagi. Kita juga akan tetap monitor di pasar," paparnya.Untuk 6 bulan ke depan, dengan pertumbuhan ekonomi yang mendekati 5 persen dan inflasi yang terjaga, Alsim yakin rupiah akan berada di level yang cukup kompetitif yakni di kisaran Rp 8.500-8.600 per dolar AS. (ani/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads