Minta Dukungan Perbankan, Menperin akan Temui BI

Minta Dukungan Perbankan, Menperin akan Temui BI

- detikFinance
Selasa, 16 Feb 2010 12:50 WIB
Jakarta - Menteri Perindustrian MS. Hidayat berencana melakukan pertemuan dengan Pjs. Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution dan pihak perbankan untuk meminta dukungan perbankan kepada dunia industri.

Pertemuan tersebut dijadwalkan akan berlangsung pada pekan depan tanggal 24 Februari 2010 bertempat dikantor Bank Indonesia (BI).

"Minggu depan Kemenperin akan rapat dengan BI dan perbankan untuk meminta dukungan dari bank dinaikkan untuk sektor indutri. Tempatnya di BI, kira-kira tanggal 24 (Februari)," ujar Menteri Perindustrian MS. Hidayat sesuai rapat koordinasi mengenai Tata Ruang, di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (16/2/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walaupun sebenarnya bukan ranah kuasanya, tetapi dirinya merasa harus untuk meminta secara khusus dukungan dari BI dan perbankan tersebut karena permasalahan di sektor industri justru banyak dari sektor di luar industri.

Dalam pertemuan tersebut, dirinya mengharapkan agar tingkat suku bunga kredit dapat turun menjadi 11-12% dari yang semula di atas 16%. Sementara itu, untuk alokasi kredit perbankan kepada industri diharapkan dapat mencapai 20% dari hanya 13% di 2009.

"Penurunan tingkat suku bunga, sedikit di atas 10, sekitar 11-12%,dan kalau ingin mendongkrak industri kredit harus tumbuh 20%," ujarnya.

Tahun ini, Hidayat mengharapkan pertumbuhan industri akan mencapai 4,6% dibanding dengan tahun lalu yang hanya 1,7%. Pertumbuhan itu dilihat dari segi investasi dan juga kinerja industri.

Dirinya optimis industri akan mulai menggeliat pada semester II-2010, salah satunya industri baja dengan masuknya investasi dari Posco, Korea Selatan yang akan membangun pabrik bekerjasama dengan Krakatau Steel senilai US$ 5 miliar.

Karena itu dirinya mengusulkan konsep reindustrialisasi sebagai jawaban atas kritikan deindustrialisasi.

"Sekarang saya sedang merancang re-industrialisasi," tegas Hidayat.
(nia/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads