"Ada laporan dari bankir bahwa untuk mengklaim ke Askrindo membutuhkan waktu yang lama," kata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa dalam siaran persnya, Selasa (23/2/2010).
Ia menambahkan, melambatnya penyaluran KUR juga disebabkan karena tidak semua bank-bank penyalur berkonsentrasi penuh untuk menyalurkan KUR.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini sangat penting agar bank penyalur KUR terus bergairah," tambah Erwin.
HIPMI berharap agar Askrindo tidak memilah-milah nasabah KUR dan dipercayakan sepenuhnya penjaringan nasabah KUR kepada perbankan.
"Jadi, semua nasabah KUR yang dijaring oleh bank, langsung mendapat penjaminan kalau kreditnya kemudian bermasalah. Percayakan saja ke bank," ungkap Erwin.
Terkait meningkatnya NPL KUR hingga 5%, HIPMI menilai hal itu tidak perlu dirisaukan, bila negeri ini berniat membantu ekonomi rakyat. Selain NPL itu sudah dijamin oleh pemerintah, masih terdapat 95% nasabah KUR yang kualitasnya sangat bagus.
"Tidak mungkin membubarkan yang 95% hanya karena yang 5%. NPL 5% saja sudah luar biasa bagusnya buat pengusaha-pengusaha pemula di KUR. Kita dukung saja," imbuh bos grup Bosowa ini.
Sementara Sekjen HIPMI M Ridwan Mustofa mengimbau, pemerintah sebaiknya terus menggenjot KUR.Β Ridwan menilai KUR sudah berhasil menaikkan status sejumlah pengusaha baru menjadi lebih bankable.
"Sebanyak 301.042 debitur KUR BRI misalnya berhasil beralih ke kredit komersial. Mereka ini menerima total pinjaman sebesar Rp 2,27 triliun. Ini berarti sukses dan sekarang menjadi lebih pede masuk ke bank," tambah Ridwan.
Saat ini sebesar 74% pangsa pasar KUR dikuasai BRI disusul PT Bank Mandiri Tbk (9%), PT Bank Negara Indonesia Tbk (9%), PT Bank Tabungan Negara Tbk (2%), PT Bank Bukopin Tbk (4%), dan PT Bank Syariah Mandiri (2%). (qom/dnl)











































