"Saya membaca sejumlah buku, salah satunya berjudul 'The Death of Why', bahwa kita harus melihat suatu masalah secara utuh," jelas SBY.
Hal itu disampaikannya dalam pidato di depan para bankir di kantor Presiden, Jakarta, Senin (1/3/2010). Hadir dalam kesempatan Ketua Perbanas Sigit Pramono, Sekjen IBI Eko Budiwiyono, Ketua Asbanda Winny Erwindia Hasan, Komisaris BCA Raden Pardede, Dirut Bank Mutiara Maryono, dan Dirut BNI Gatot Suwondho.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sembari menunjukkan buku tersebut, SBY juga menyatakan semua pihak melihat masalah penyelamatan Bank Century ini secara utuh, tidak hanya dari satu penggal keterangan.
"Mari melihat masalah secara jernih dan rasional, jika ingin dikoreksi, maka harus berangkat dari cara pandang yang utuh sesuai konteksnya," imbuh SBY.
Buku 'The Death of Why' ini bercerita tentang kritik si pengarang soal masyarakat di negara demokrasi modern kehilangan sikap kritisnya. Andrea mengkritik masyarakat yang dibentuk untuk percaya dengan jawaban yang sudah disediakan, omongan pengamat dan survei.
Hal itu pada akhirnya menyebabkan orang kehilangan sikap kritis mereka dan percaya dengan informasi yang sebenarnya bukan kebenaran sesungguhnya. Akibatnya sikap untuk bertanya 'WHY' akhirnya mati.
Dalam kesempatan pertemuan tersebut, SBY memang bercerita tentang bagaimana krisis di penghujung tahun 2008 hingga akhirnya pemerintah memutuskan menyelamatkan Bank Century. Meski tidak seizin dirinya, namun Presiden SBY menyatakan penyelamatan Bank Century dalam rangka menyelamatkan perekonomian dari krisis sudah benar.
"Meskipun baik gubernur BI dan Menkeu tidak melalui izin saya, karena beliau bekerja dengan UU, saya katakan bahwa yang dilakukan penyelamatan perekonomian kita adalah benar," tegas SBY. (qom/dnl)










































