Pendapatan Asuransi Jiwa Capai Rp 81,71 Triliun di 2009

Pendapatan Asuransi Jiwa Capai Rp 81,71 Triliun di 2009

- detikFinance
Rabu, 03 Mar 2010 11:42 WIB
Pendapatan Asuransi Jiwa Capai Rp 81,71 Triliun di 2009
Jakarta - Industri asuransi jiwa pada 2009 mencatat peningkatan pendapatan yang signifikan sebesar 76,25%, dari Rp 46,36 triliun menjadi Rp 81,71 triliun (unaudited). Hal itu menunjukkan masyarakat yang semakin sadar berinvestasi.

Dari total pendapatan itu, sumbangan pendapatan premi selama kurun waktu 12 bulan terakhir di 2009 mencapai Rp 60,24 triliun, atau tumbuh 27,26% dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 47,33 triliun.

Untuk pendapatan non premi asuransi jiwa mencapai Rp 21,47 triliun, meningkat 2.271% dibanding periode yang sama 2008 yang minus Rp 973,8 miliar

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pendapatan premi baru (new business) menyumbang Rp 40,41 triliun dari seluruh total pendapatan premi industri Asuransi Jiwa. Ini mengalami peningkatan 31,18% dibanding tahun lalu, Rp 30,8 triliun. Sedangkan untuk pendapatan premi lanjutan Rp 19,82 triliun, atau meningkat 19,96% dibanding periode yang sama tahun 2008, Rp 16,53 triliun.

"Peningkatan juga terjadi pada unitlink. Pendapatan pada periode ini meningkat Rp 21,5 triliun atau naik 55% dari  2008,  Rp 13,85 triliun," ujar Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Nasional (AAJI) Evelina Pietruschka di Poste Restoran Mega Kuningan Jakarta Rabu (3/3/2010)..

Ditambahkan Evelina, peningkatan ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya berinvestasi dan membeli produk asuransi. Apalagi setelah meredanya krisis keuangan dan banyaknya bencana alam yang terjadi beberapa waktu lalu.

"Peningkatan lain juga terlihat pada pendapatan dari hasil investasi yang melonjak Rp 19,82 triliun selama  2009. Bandingkan pada periode yang sama tahun 2008 yang minus Rp 2,12 triliun," paparnya.

Nilai investasi industri asuransi jiwa sepanjang 2009 naik 43% dari Rp 88,63 triliun menjadi Rp 127,32 triliun. Surat berharga mencatat nilai investasi tertinggi, yaitu mencapai Rp 54,5 triliun atau 42,81% dari total nilai investasi industri.

Disusul kemudian produk reksa dana mencapai Rp 40,1 triliun (31,48%), Deposito berjanka Rp 15,3 triliun (12,04%), Penyertaan langsung Rp 6,2 triliun (4,92%), Surat pengakuan hutang lebih dari 1 tahun Rp 4,1 triliun (3,27%, Pinjaman polis Rp 2,8 triliun (2,24%), Bangunan dan ganah untuk investasi Rp 2,1 triliun (1,64%), SBI Rp 885 miliar (0,7%), SBPU Rp 447 miliar (0,35%), Pinjaman hipotek Rp 141,2 miliar (0,11%), dan lain-lain Rp 580 miliar (0,46%).

"Investasi di Surat berharga naik dibanding tahun 2008 dari 29,2 triliun menjadi Rp 54,5 triliun. Namun minat SBI justru turun dibanding tahun lalu. 2008 tercatat  Rp 5,5 triliun. Dengan keputusan BI memangkas suku bunga acuan (BI rate) hingga 6,5% pada September 2009, sehingga pilihan investaso di SBI semakin turun dan berpindah ke deposito atau reksadana," kata Direktur Eksekutif AAJI, Stephen B. Juwono.

(wep/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads