"SUN akan tetap dominan di instrumen investasi kita di tahun ini, jumlahnya mencapai 80-90% dari nilai surat berharga dan efek-efek," ujar Ketua AAJI Evelina F. Pietruschka saat ditemui di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (3/3/2010).
Menurutnya, instrumen SUN masih menjadi pilihan karena tingkat risiko yang paling signifikan dibanding instrumen investasi lainnya seperti reksa dana dan deposito.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun ini, AAJI menargetkan nilai investasi industri asuransi dapat tumbuh 20% dibanding tahun lalu yang sebesar Rp 127,32 triliun. Pertumbuhan ini masih di bawah target kenaikan total pendapatan industri asuransi jiwa yang mencapai 76%.
Pendapatan industri asuransi tahun ini diperkirakan dapat tumbuh pesat seperti tahun 2009. Tercatat pendapatan industri tahun lalu mencapai Rp 81,71 triliun (unaudited). Jika mengacu pada pertumbuhan tersebut, maka total pendapatan industri asuransi jiwa tahun bisa mencapai Rp 143,8 triliun.
"Kalau nilai investasi memang tidak sepesat total pendapatan kita. Ini karena 2008 dan 2009 kan habis krisis. Orang lebih banyak investasi di sini. Nah tahun ini kan ekonomi mulai pulih, jadi tidak akan sepesat tahun lalu," kata Evelina
Sementara itu, total aset industri asuransi jiwa sampai akhir tahun 2009 mencapai Rp 140,49 triliun atau naik 40% dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 99,74 triliun. Pertumbuhan ini akan terus dijaga, sehingga pada tahun 2014 total aset secara industri dapat mencapai target sebesar Rp 500 triliun.
"Jika kita terus menjaga pertumbuhan 40%, kita yakin bisa Rp 500 triliun. Ini didukung oleh pertumbuhan agen yang mencapai 500 ribu di tahun 2012," ungkap Direktur Eksekutif AAJI Stephen Juwono.
Selama kurun waktu 2009 tercatat, total klaim yang dibayarkan asuransi jiwa nasional mencapai Rp 38,71 triliun. Mengalami peningkatan 30% dibanding tahun lalu yang sebesar Rp 29,68 triliun.
"Klaim terdiri dari polis yang ditebus (surrender value) sebesar Rp 15,61 triliun, polis yang berakhir masa kontraknya (maturity) Rp 6,04 triliun, klaim meninggal dunia Rp 2,7 triliun, dan lain-lain Rp 14,3 triliun," terangnya.
(wep/dnl)











































