FIF Targetkan Pembiayaan Motor Rp 15 Triliun di 2010

FIF Targetkan Pembiayaan Motor Rp 15 Triliun di 2010

- detikFinance
Kamis, 04 Mar 2010 15:36 WIB
Jakarta - PT Federal International Finance (FIF) menargetkan dapat meraih pembiayaan kendaraan roda dua sebanyak 882.000 kendaraan pada tahun 2010, dengan target nilai pembiayaan mencapai Rp 15 triliun.

Untuk memenuhi pencapaian tersebut, pada bulan April mendatang, FIF siap menambah modal kerja mereka melalui penerbitan obligasi sebesar Rp 1 triliun. Demikian disampaikan oleh Direktur Keuangan FIF Juliani Eliza Syaftari saat dihubungi detikFinance, Kamis (4/3/2010).

Menurutnya, dari target pertumbuhan industri otomotif roda dua tahun 2010 yang mencapai 6,4 juta kendaraan, perseroan yakin dapat mendapatkan market share 13,78%, atau setara dengan 882 ribu kendaraan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk market share kami masih kecil, namun bakal tumbuh seiring dengan pertumbuhan industri, dari 5,8 juta produksi nasional menjadi 6,2-6,4 juta kendaraan. Tahun lalu kita kan mencapai 800 ribu kendaraan," kata Juliani.

Target pembiayaan kendaraan sendiri, ungkapnya, bakal bertumbuh 25% dari Rp 12 triliun pada tahun 2009, menjadi Rp 15 triliun.

Khusus untuk penerbitan obligasi, perseroan menargetkan akan listing pada bulan April 2010. Saat ini, FIF sedang mengurus ijin efektif dari Bapepam-LK.

Penunjukan penjamin pelaksanan emisi obligasi juga telah ditetapkan perseroan. Ada empat sekuritas yang dipercaya perseroan, diantaranya PT Danareksa Sekuritas, PT Khresna Graha Sekurindo, PT Indo Premier Securities, dan PT Mandiri Sekuritas.

Rencananya, penerbitan obligasi ini akan terbagi menjadi 4 seri, di rentang waktu 2,5-3 tahun. Kondisi rating FIF sendiri juga terpantau tidak berubah,Β  yaitu idAA-.

"Penetapan jenis obligasi akan mengikuti portofolio dan rentan tenor yang ada," ujarnya.

Setelah penerbitan oblgasi ini berhasil, rencananya perseroan juga akan menerbitkan Medium Term Notes (MTN). Namun besarannya masih belum bisa diungkapkan.

"Kami masih fokus pada obligasi. MTN memang ada rencana, tapi akan dilakukan bertahap. Kepemilikannya kan berbeda dan juga tunggu pasar kondustif. Kalau ada permintaan pasti kami terbitkan," ucapnya.

(wep/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads