"Saya sangat puas dengan pidato Bapak Presiden. Sangat jelas dan tidak perlu ada interpretasi," ujar Sri sembari jalan bergegas meninggalkan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (4/3/2010).
Sri Mulyani memang seolah menjadi 'bintang' dalam pidato malam ini. Selain menyebutnya sebagai putri terbaik bangsa dengan rekam jejak dan kredibilitas yang tak diragukan, Presiden SBY juga beberapa kali menyatakan dirinya bersama Boediono (Gubernur BI kala itu) telah berjasa menyelamatkan ekonomi negara dari kerusakan akibat dampak krisis keuangan global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
yang rekam-jejaknya tidak sedikit pun meninggalkan catatan buruk terkait dengan kompetensi, kredibiltas dan integritas pribadinya," ujar SBY.
Sejak kemunculannya di Istana Merdeka, Sri Mulyani yang berkebaya hijau jadi perhatian semua yang sudah lebih dahulu berada di lokasi. Kebetulan Sri tergolong datang belakangan dan pada saat itu seluruh kursi bagi menteri sudah nyaris penuh.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa yang kursinya persis di samping kursi Ny. Ani Yudhoyo lalu menggoda dengan menawarkan kursi yang masih kosong itu. Menkeu pun menyambutnya dengan tertawa.
Sejurus kemudian mereka berdua terlibat pembicaraan yang terlihat serius. Mensesneg Sudi lalu bergabung dalam pembicaraan yang berlangsung sambil berdiri itu.
Setelah itu Sri menyeberangi ruangan menuju bagian kursi bagi menteri yang ada di sana. Masalah sama terulang, sebab deretan itu pun juga sudah hampir penuh.
Staf khusus presiden Jusuf Wangkar lalu berdiri menawarkan kursi di deretan ke tiga yang dia duduki. Belum sempat Sri Mulyani duduk di situ, para wartawan yang ada posisi itu mintanya pinda ke barisan depan.
Tapi masalahnya barisan itu pun juga sudah penuh. Menperin MS Hidayat pun lalu berdiri tawarkan kursinya.
"Wah Golkar yang kasih kursi lho...," goda wartawan dan MS Hidayat hanya senyum menanggapinya.
(lh/qom)











































