"Ada tambahan Rp 1,8 triliun dilakukan penerbitan secara reguler," ujar Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin, Jakarta, Senin (8/3/2010).
Dengan penambahan tersebut, berarti pemerintah akan menaikkan target indikatif SBN. Hal ini untuk mencapai penerimaan negara dari penerbitan SBN sebesar Rp 176,86 triliun dalam RAPBN-P dari Rp 175,061 triliun dalam APBN 2010.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terdapat peningkatan pengeluaran pembiayaan sebesar Rp 18,683 triliun yang terdiri dari investasi pemerintah sebesar Rp 2,683 triliun, penyertaan modal negara sebesar Rp 3,8 triliun, dana bergulir Rp 4,7 triliun, dan pinjaman untuk PT PLN Rp 7,5 triliun. Total Rp 18,683 triliun," ujarnya.
Untuk memenuhi penambahan biaya tersebut, Sri Mulyani menyatakan akan dibiayai surplus anggaran 2009 (SILPA/Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) sebesar Rp 38,347 triliun, pembiayaan luar negeri sebesar Rp 9,378 triliun, realokasi cadangan pembiayaan infrastruktur sebesar Rp 914 miliar, dan penambahan penerbitan SBN sebesar Rp 1,849 triliun.
(nia/dnl)










































