"Saya pikir untuk mereformasi departemen keuangan itu gampang tapi ternyata terlihat susah. Di parlemen mereka bicara reformasi, tapi atas nama reformasi tersebut mereka menyalahkan saya," ujarnya diiringi gemuruh tepuk tangan para tamu dalam 'Foreign Press Gathering' di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin, Jakarta, Selasa malam (9/3/2010).
Sri Mulyani tidak merasa dirinya menjadi target dari Pansus Bank Century yang dengan jelas menyebutkan namanya sebagai orang yang bertanggung jawab atas pemberian dana bailout Bank Century.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sri Mulyani yakin jika semua pihak berpikir jernih dan objektif serta menyerahkan masalah pada hukum maka tidak akan dipolitisasi.
"Untuk prosesnya seharusnya hukum tidak dapat disetir politik. Kebijakan untuk mem-bailout itu, jika ada proses yang salah harus dibuktikan dan diproses hukum, itu tidak akan ada masalah tapi akan jadi masalah karena dicampur politik," ujarnya.
Sri Mulyani menyatakan sejauh ini tidak ada yang protes atas kebijakan yang dilakukannya untuk menyelamatkan Bank Centuy.
"Presiden juga bilang, semua harus dilihat secara proporsional apakah kebijakan itu salah atau benar, kalau di-impact benar atau salahnya bisa dilihat dari dampaknya. Selama ini tidak ada komplain tentang kebijakan itu," ungkapnya.
Mengakhiri jawabanya, Sri Mulyani menyampaikan "Indonesia is always noise, always messy, but policy is always previllege".
Seperti diketahui, DPR telah memutuskan proses pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) dan Penyertaan Modal Sementara (PMS) Bank Century bermasalah. DPR dalam lampiran kesimpulannya meminta Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani non-aktif karena dinilai ikut terlibat dalam kasus tersebut.
(nia/qom)











































