Demikian hal itu diungkapkan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto kepada detikFinance, Sabtu (13/3/2010).
"Setelah pengumuman kemarin, yield Indo-bonds (dalam US$) turun sekitar 25-50 bps. Bahkan untuk yield Indonesia sudah lebih rendah dari Turki dan Philipina," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dampaknya bagus dalam menurunkan biaya utang negara dan sektor swasta, yaitu kalau pemerintah untuk membiayai APBN atau perusahaan swasta perlu dana melalui penerbitan obligasi," katanya.
Ia berharap, dengan kenaikan peringkat dan positive outlook tersebut, pemerintah bisa mendapat momentum untuk menjaga jalannya agenda reformasi dan kebijakan fiskal yang prudent.
"Pemerintah harus tetap melanjutkan reformasi birokrasi termasuk pemberantasan korupsi, dan pelaksanaan APBN sesuai jadwal agar tujuan pembangunan untuk kepentingan rakyat tidak terganggu," ujarnya.
Sebelumnya, S&P menaikkan peringkat utang pemerintah. Peringkat utang dengan mata uang asing (long-term foreign currency rating) Indonesia menjadi BB dari semula BB- dan peringkat utang dengan mata uang rupiah (long-term local currency) tetap di BB+. Outlook untuk kedua rating ini ditetapkan positif.
(ang/dru)











































