Melalui voting 9:1, anggota FOMC sepakat untuk mempertahankan suku bunga rendah di kisaran 0-0,25%. Satu anggota FOMC, Gubernur Bank Sentral Kansas City Thomas Hoenig tidak sepakat dengan keputusan itu dan berpendapat mempertahankan suku bunga rendah tanpa terkecuali untuk periode yang lebih panjang tidak lagi diperlukan. Sudah 2 kali Hoenig memberikan opini yang berbeda.
Ekonom BII Samuel Ringoringo menyatakan, The Fed lagi-lagi menyatakan akan menjaga tingkat suku bunga untuk "periode yang panjang" - low interest rates for an extended period of time. Frase tersebut menunjukkan bahwa Bank Sentral AS memang belum menunjukkan sinyal kenaikan suku bunga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fed Rate yang tetap di 0,25 persen menurut Samuel juga membuktikan kebenaran hipotesis bahwa kenaikan tingkat suku bunga diskonto AS beberapa waktu lalu tak lebih dari upaya normalisasi pasar uang AS, bukan pengetatan moneter.
Lantas apa implikasi kebijakan suku bunga rendah AS untuk waktu yang lebih lama tersebut ke Indonesia? Samuel melihatnya dari 3 sisi yakni dampak ke nilai tukar rupiah, BI Rate dan pasar obligasi.
Â
1. Dampak pada pergerakan nilai tukar rupiah
Â
Rupiah masih dalam trend yang menguat; dikarenakan likuiditas global (yang disokong oleh AS,Eropa, dan Jepang) masih akan tinggi dan memburu aset-aset di negara berkembang (termasuk Indonesia) yang memberikan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi disertai outlook ekonomi yang meyakinkan. Artinya, IHSG-pun masih dalam trend yang positif.
Â
2. Arah BI Rate
BI Rate masih akan di kisaran 6.5 persen. Selain karena Fed Rate tetap, inflasi Indonesia sendiri belum menjadi ancaman. BI tentu masih percaya diri dengan tingkat suku bunga sekarang, dan tetap fokus berusaha menurunkan tingkat suku bunga kredit sambil menjaga penguatan Rupiah agar tidak terlalu tajam demi melindungi sektor riil (baik ekspor maupun impor).
Â
3. Pasar Obligasi masih tumbuh
Pasar obligasi masih bisa tumbuh moderat. Tingkat suku bunga yang stabil dan inflasi yang terjaga dibarengi dengan likuiditas global yang besar dan supply obligasi yang terbaca oleh pasar akan memberikan impak positif bagi pasar obligasi Indonesia.
"Tetapi, tetap dikatakan "moderat" karena bagaimanapun investor obligasi meyakini siklus inflasi akan datang dan tentu dampaknya nanti akan mebuat kenaikan harga obligasi sedikit tertahan setidaknya di paruh kedua 2010. Lain ceritanya bila peringkat rating Indonesia bisa masuk investment grade, pasar obligasi bisa naik lebih agresif," pungkas Samuel.
(qom/qom)











































