Kepala Biro Hubungan Masyarakat BI Difi A. Johansyah mengatakan, BI sebagai otoritas perbankan di Indonesia mengingatkan Barclays mengenai komitmen jangka panjangnya saat akan mengakuisisi Bank Akita.
"Karena tahun lalu waktu mereka ambil Bank Akita mereka punya komitmen, kita ingatkan komitmen itu, jadi jangan jadi main-mainan. Karena sesuai dengan ketentuan, bahwa baru bisa dapat lepas bank setelah 5 tahun. Jadi untuk urusan bagian dari ekspansi global, jangan jadikan alasan untuk sekedar investasi sebentar," tuturnya kepada detikFinance, Rabu (24/3/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"BI ingin akuisisi bank di Indonesia atas dasar jangka panjang dan serius agar akuisisi tersebut berguna bagi perekonomian Indonesia. Jangan sampai bank di Indonesia jadi komoditas saja oleh investor," jelasnya.
BI akan mempertimbangkan untuk menerapkan kebijakan yang ketat dan terikat bagi pihak asing yang akan mengakuisisi bank di Indonesia.
"Soal apakah akan ada kebijakan yang mengikat bagi investor asing, sampai saat ini belum dipikirkan. Tapi permasalahannya Barclays-Akita ini akan jadi masukkan bagi BI," jelasnya.
Barclays Plc resmi mengakuisisi Bank Akita pada September 2009. Barclays membeli saham milik Daniel Gunawan, Basuki Kumala dan PT Orix Indonesia Finance sebanyak 99% saham di Bank Akita melalui pembelian 457.875.000 saham. Pada Januari 2009, Barclays mengubah nama Bank Akita menjadi Barclays Bank Indonesia.
Namun pada 22 Maret 2010, Barclays Plc mengumumkan akan menghentikan bisnis ritel banking di Indonesia dalam rangka reorganisasi bisnis kantor pusat Barclays di Inggris. Barclays berniat melepas Bank Akita pada saat yang tepat.
Bank terbesar kedua di Inggris itu mengumumkan akan melakukan reorganisasi melalui 3 divisi terpisah yakni Global Retail Banking (GRB), Corporate and Investment Banking and Wealth Management (CIBWM) dan Absa. Absa adalah salah satu kelompok usaha finansial terbesar di Afrika Selatan. (dnl/qom)











































