Hal tersebut mencerminkan akses masyarakat khususnya bagi rumah tangga masih sedikit dalam artian banyak masyarakat yang tidak memanfaatkan perbankan untuk konsumsi rumah tangga.
Demikian hasil survei Bank Indonesia (BI) selama tahun 2009 yang disampaikan oleh Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia Halim Alamsyah dalam Pelatihan Jurnalistik bertemakan "Mengintip Modal Perbankan Nasional" di Hotel Vue Palace, Bandung, Sabtu (27/03/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Halim menambahkan seiring dengan pendapatan domestik bruto per kapita masyarakat Indonesia yang naik menjadi 2.800 dari 1.200 dalam waktu lima tahun maka bank sentral memprediksikan dalam 5 tahun kedepan pula konsumsi rumah tangga khususnya pinjaman kepada industri perbankan akan meningkat dua kali lipat.
"Jika dibandingkan dengan Korea Selatan utang rumah tangganya mencapai 70%. Sepersepuluhnya dari Indonesia dan memang di Indonesia pun hanya terjadi di kota-kota besar saja," tutur Halim.
Selain itu Halim juga menuturkan jika dibandingkan beberapa negara Emerging Market di Asia, rasio kredit terhadap GDP, Indonesia tercatat yang paling rendah se-Asean sementara Thailand paling tinggi.
(dru/qom)











































